Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Ismail Sualman dan Yuliandre Darwis
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 993 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Propaganda adalah salah satu fenomena komunikasi yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial dan politik manusia. Meskipun istilah propaganda sering dikaitkan dengan kampanye politik, perang, konflik ideologis, atau penyebaran informasi yang bersifat manipulatif, faktanya propaganda memiliki cakupan yang lebih luas karena terkait dengan proses pembentukan makna, persepsi, sikap, dan perilaku audiens. Dalam konteks komunikasi politik, propaganda penting karena persaingan politik tidak hanya terjadi melalui perebutan kekuasaan institusional, tetapi juga melalui perjuangan perhatian, interpretasi, emosi, dan keyakinan publik.
Propaganda adalah konsep yang sulit untuk diberikan satu definisi tunggal karena maknanya berubah sesuai perkembangan sejarah, teknologi komunikasi, struktur politik, dan perspektif disiplin yang digunakan oleh para akademisi. Dalam studi komunikasi, propaganda dipandang sebagai penyebaran ide, pengelolaan opini publik, pembentukan sikap, manipulasi psikologis, mobilisasi massal, dan upaya untuk mengarahkan perilaku manusia menuju tujuan tertentu. Oleh karena itu, memahami propaganda memerlukan studi beberapa definisi ilmiah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bidang ini.
Penulis : Revaldi Alzikri, Anita Afriani Sinulingga, Silvi Cory, Farhan Rizki Rifandy, Sofia Trisni, Putiviola Elian Nasir, Saiman Pakpahan, Sahida Salma Fariza, Sofia Trisni, Silvi Cory, Virtuous Setyaka
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 118 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Perubahan besar dalam lanskap global abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh pergeseran kekuatan militer atau aliansi geopolitik, tetapi oleh transformasi digital yang merasuk ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Disrupsi teknologi informasi, ekspansi media sosial, kapitalisme platform, serta ledakan data telah mengubah cara negara membangun citra, masyarakat berinteraksi lintas batas, hingga bagaimana disiplin Ilmu Hubungan Internasional (HI) memetakan realitas dunia.
Buku bunga rampai ini lahir karena kesadaran bahwa era digital merupakan konteks tambahan dalam studi hubungan internasional, dan merupakan struktur baru yang membentuk praktik diplomasi, nation branding, produksi pengetahuan, hingga dinamika kekuasaan global. Lima tulisan dalam buku ini bergerak dari ranah praktik kebijakan publik hingga refleksi teoretis, dari strategi nation branding negara hingga peran komunitas fandom sebagai aktor diplomasi, serta dari transformasi asosiasi keilmuan hingga pembacaan ulang Marxisme dalam kapitalisme digital.
Secara garis besar, buku ini menempatkan transformasi digital sebagai benang merah yang menghubungkan tiga ranah utama: (1) diplomasi dan nation branding, (2) aktor non-negara dan komunitas digital, serta (3) transformasi epistemologis dalam disiplin HI dan ilmu sosial.
Tulisan pertama mengangkat kasus Thailand melalui strategi transformasi digital dalam nation branding pascapandemi COVID-19. Sebelum pandemi, Thailand merupakan salah satu destinasi wisata global terkemuka dengan hampir 40 juta kunjungan internasional pada 2019. Namun, ketergantungan yang besar pada pasar Tiongkok dan krisis kepercayaan akibat narasi negatif di ruang digital memperlihatkan rapuhnya model mass tourism tradisional. Melalui peran Tourism Authority of Thailand (TAT), Thailand melakukan reposisi strategi dari orientasi volume menuju value and trust, dengan memanfaatkan ekosistem digital Tiongkok sebagai arena utama pemulihan citra. Transformasi ini menunjukkan bahwa nation branding di era digital tidak lagi hanya tentang slogan seperti Amazing Thailand, tetapi tentang integrasi data analytics, kebijakan visa, sertifikasi keamanan digital, dan komunikasi berbasis platform.
Penulis : Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Rizki Yunanda, Sufi, Nazrina Zuryani, Jendrius, Mita Rosaliza, Achmad Hidir, Hesti Asriwandari, Kamaruddin Hasan, Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Sufi, Afrizal Tjoetra, Harmona Daulay, Novri Susan, Idham Irwansyah Idrus, Ardi Abbas
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 128 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Era digital telah membawa transformasi besar dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga mengubah pola pendidikan, budaya, ekonomi, hingga cara masyarakat membangun identitas sosialnya. Media digital menjadi ruang baru bagi pertukaran informasi, pembentukan solidaritas, sekaligus arena kontestasi nilai dan budaya. Di sisi lain, globalisasi yang semakin intens menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat lokal untuk mempertahankan identitas, kearifan budaya, serta nilai-nilai sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Buku ini hadir untuk memberikan gambaran mengenai berbagai dinamika sosial kontemporer tersebut melalui perspektif multidisipliner, khususnya dalam kajian sosiologi, pendidikan, media, dan budaya. Beragam tulisan yang terkumpul di dalam buku ini membahas isu-isu penting seperti transformasi metodologi penelitian sosial di era digital, media sosial dan pembentukan identitas digital, penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, peran organisasi masyarakat sipil dan asosiasi keilmuan, hingga tantangan sosial dalam sektor pariwisata dan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Keseluruhan tulisan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat modern, sekaligus memperlihatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai lokal sebagai fondasi sosial dan budaya.
Buku ini terdiri dari enam bab utama yang membahas beragam dinamika sosial kontemporer di era digital. Bab pertama membahas rekonfigurasi metodologi sosiologi di era digital, khususnya perubahan pendekatan penelitian sosial akibat perkembangan big data, media sosial, dan teknologi digital. Bab kedua mengkaji fenomena over-tourism dalam perspektif sosiologi pariwisata dengan menyoroti peran PHRI dalam mendukung tata kelola pariwisata berkelanjutan. Bab ketiga membahas pengembangan kurikulum pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal dan tantangan global, khususnya dalam konteks pendidikan di Aceh. Bab keempat mengulas internalisasi kearifan lokal Aceh dalam media baru melalui peran konten kreator digital di Kota Lhokseumawe. Selanjutnya, bab kelima menyoroti peran asosiasi keilmuan sebagai organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat program studi dan jejaring akademik. Sementara itu, bab keenam membahas media sosial sebagai arena pembentukan identitas dan solidaritas digital dalam masyarakat modern. Keseluruhan bab dalam buku ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi digital menghadirkan perubahan sosial yang kompleks, sekaligus membuka ruang bagi penguatan identitas lokal, pengembangan pendidikan, dan transformasi masyarakat kontemporer.
Penulis : Haura Atthahara, Yesi Puspita, Emeraldy Chatra, Ilham Havifi, Robi Jaya Putra, Revi Marta, Misbah El Yaser, Dewi Anggraini, Zulfadli, Lusi Puspika Sari, Hanny Purnamasari, Rozidateno Putri Hanida, Rayla Osvita Putri, Lolita Deby Mahendra Putri, Dewi Noor Azijah
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 124 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Keterlibatan perempuan dalam politik merupakan salah satu indikator fundamental bagi kualitas demokrasi. Demokrasi pada prinsipnya mengandung makna partisipasi setara dari seluruh warga negara tanpa diskriminasi, termasuk diskriminasi berdasarkan gender (Kristina & Iskandar, 2022). Oleh karena itu, keterwakilan perempuan dalam lembaga politik tidak hanya dipandang sebagai isu keadilan sosial, tetapi juga sebagai prasyarat bagi terwujudnya demokrasi yang substantif dan inklusif. Secara teoretis, hubungan antara gender dan demokrasi berakar pada konsep democratic inclusiveness bahwa demokrasi sejati menuntut partisipasi seluruh kelompok sosial dalam proses pengambilan keputusan publik (Pramudita et al., 2020). Dalam konteks ini, gender menjadi variabel penting karena struktur sosial dan politik selama ini cenderung memusatkan kekuasaan pada laki-laki. Demokrasi yang tidak sensitif gender berpotensi menghasilkan kebijakan yang bias dan gagal mencerminkan kepentingan seluruh warga negara (Tias et al., 2023). Dengan demikian, keterlibatan perempuan di parlemen tidak sekadar memperbanyak jumlah kursi yang diisi oleh perempuan, tetapi juga menjadi sarana korektif terhadap defisit representasi dalam sistem demokrasi.