20 Oktober 2026 In Berita

Penulis : Haura Atthahara, Yesi Puspita, Emeraldy Chatra, Ilham Havifi, Robi Jaya Putra, Revi Marta, Misbah El Yaser, Dewi Anggraini, Zulfadli, Lusi Puspika Sari, Hanny Purnamasari, Rozidateno Putri Hanida, Rayla Osvita Putri, Lolita Deby Mahendra Putri, Dewi Noor Azijah

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 124 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Keterlibatan perempuan dalam politik merupakan salah satu indikator fundamental bagi kualitas demokrasi. Demokrasi pada prinsipnya mengandung makna partisipasi setara dari seluruh warga negara tanpa diskriminasi, termasuk diskriminasi berdasarkan gender (Kristina & Iskandar, 2022). Oleh karena itu, keterwakilan perempuan dalam lembaga politik tidak hanya dipandang sebagai isu keadilan sosial, tetapi juga sebagai prasyarat bagi terwujudnya demokrasi yang substantif dan inklusif. Secara teoretis, hubungan antara gender dan demokrasi berakar pada konsep democratic inclusiveness bahwa demokrasi sejati menuntut partisipasi seluruh kelompok sosial dalam proses pengambilan keputusan publik (Pramudita et al., 2020). Dalam konteks ini, gender menjadi variabel penting karena struktur sosial dan politik selama ini cenderung memusatkan kekuasaan pada laki-laki. Demokrasi yang tidak sensitif gender berpotensi menghasilkan kebijakan yang bias dan gagal mencerminkan kepentingan seluruh warga negara (Tias et al., 2023). Dengan demikian, keterlibatan perempuan di parlemen tidak sekadar memperbanyak jumlah kursi yang diisi oleh perempuan, tetapi juga menjadi sarana korektif terhadap defisit representasi dalam sistem demokrasi.

20 Oktober 2026 In Berita

Penulis : Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 202 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Ilmu pengetahuan lahir dari kebutuhan akan prosedur pemeriksaan itu. Ia bukan kumpulan fakta, melainkan cara kerja untuk memperoleh, menguji, dan mengoreksi pernyataan tentang dunia. Setidaknya empat ciri melekat padanya. Ilmu bersifat empiris, artinya klaimnya berujung pada pengalaman yang dapat diamati. Ilmu bersifat sistematis, karena langkah-langkahnya tersusun dan bukan hasil lompatan intuisi semata. Ilmu bersifat terbuka pada kritik, sebab setiap temuan dipersilakan diuji ulang. Dan ilmu bersifat sementara, karena kesimpulan hari ini bisa digugurkan oleh bukti yang lebih baik esok hari.
Ciri terakhir itu yang paling sering disalahpahami. Banyak pembaca pemula mengira karya ilmiah harus melahirkan kepastian mutlak. Kenyataannya, kekuatan ilmu justru terletak pada kesediaannya untuk salah secara terbuka. Sebuah kesimpulan yang dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dibantah oleh bukti apa pun bukanlah kesimpulan ilmiah, melainkan pernyataan iman atau selera.
Sejarah pemikiran menyediakan dua jalan untuk sampai ke sana, dan keduanya masih hidup dalam praktik penelitian hari ini. Jalan empiris bertumpu pada pengamatan: pengetahuan dibangun dari kasus-kasus yang teramati, lalu ditarik menjadi pernyataan yang lebih umum. Jalan rasional bertumpu pada penalaran: pengetahuan diturunkan dari asas atau teori yang sudah ada menuju pernyataan yang lebih khusus. Penelitian modern jarang memilih satu dan membuang yang lain. Peneliti berangkat dari teori untuk menurunkan dugaan, menguji dugaan itu dengan data lapangan, lalu memakai hasilnya untuk memperbaiki teori. Gerak bolak-balik antara penalaran dan pengamatan inilah yang membuat pengetahuan ilmiah bertambah tanpa harus dimulai dari nol setiap kali.

20 Oktober 2026 In Berita

Penulis : Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 241 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Setiap bangunan ilmu yang kita kenal hari ini, mulai dari ilmu alam yang menjelaskan gerak planet sampai ilmu sosial yang menafsirkan perilaku manusia, bermula dari sesuatu yang tampak sederhana, yaitu keinginan untuk memahami. Sebelum ada laboratorium, jurnal ilmiah, dan gelar akademik, yang ada lebih dahulu adalah manusia yang merasa heran terhadap dunia di sekitarnya dan tidak puas hanya menerima keadaan apa adanya. Bab ini mengajak pembaca menelusuri titik awal itu dan menempatkan falsafah ilmu sebagai upaya untuk memahami bagaimana pengetahuan lahir, disusun, dan dipertanggungjawabkan. Pembahasan dimulai dari rasa ingin tahu sebagai sumber pengetahuan, dilanjutkan dengan hubungan antara filsafat dan ilmu, lalu ditutup dengan ruang lingkup serta kedudukan falsafah ilmu itu sendiri.

15 September 2026 In Berita

Penulis : Dayar Arbain | Amri Bakhtiar | Deddi Prima Putra | Nurainas

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 817 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Buku ini memuat informasi ilmiah yang tersedia dengan mencantumkan referensinya de- ngan lengkap, sehingga kalau ada hal-hal yang menarik perhatian pembaca, yang bersang- kutan akan dapat melakukan penelusuran lanjutan tentang infomasi yang diperlukan sesuai daftar referensi yang tersedia.
Mengenai judul Tumbuhan Obat Sumatra bukan berarti jenis tumbuhan yang terdapat dalam buku ini tumbuhan asli Sumatra dan hanya digunakan oleh berbagai suku di Suma- tra untuk pengobatan dengan kegunaan dan cara pakai yang berbeda dengan penggunaan di berbagai belahan lain bumi. Seperti yang terlihat pada tinjauan Botani, beberapa di antara jenis tumbuhan yang terdapat dalam buku ini juga digunakan oleh berbagai anak bangsa dari kelompok etnis yang berbeda dan bangsa lain di dunia dengan nama yang berbeda dan peng- gunaan yang bisa saja berbeda. Di samping itu beberapa tumbuhan yang terdapat dalam buku ini bukanlah tumbuhan asli Sumatra tapi berasal dari belahan lain bumi, tapi oleh orang Suma- tra sudah dianggap sebagai tumbuhan mereka sendiri dengan penggunaan secara tradisional yang khas pula.
Keberadaan tumbuhan Sumatra dapat dikelompokkan atas dua bagian besar. Tumbuhan yang terdapat di sepanjang bukit barisan di bagian barat Pulau Sumatra umumnya ditemukan juga di Pulau Jawa, dan di daerah subtropik seperti di Thailand, Myanmar, Filipina, India, dan Cina Selatan, sedangkan tumbuhan yang terdapat di dataran rendah bagian timur banyak yang sama dengan tumbuhan yang terdapat di Kalimantan dan Semenanjung Malaya.