29 Agustus 2026 In Berita

Penulis : Ns. Arif Rohman Mansur, S.Kep., M.Kep., CIIQA | Ns. Ira Mulya Sari, M.Kep., Sp.Kep. An | Ns. Mutia Farlina, M.Kep., Sp.Kep A.n | Ns. Marsi Sekar Ningrum, S.Kep | Ns. Finatri Handayani, S.Kep

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 241 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Masa pubertas membawa perubahan fisik, emosional, dan sosial bagi setiap remaja, termasuk remaja dengan disabilitas intelektual. Namun, keterbatasan dalam memahami informasi abstrak, mengenali batas sosial, dan mengungkapkan pengalaman membuat mereka membutuhkan pendampingan yang lebih konkret, bertahap, dan berulang. Tanpa edukasi yang tepat, remaja dapat mengalami kebingungan, kesulitan merawat diri, serta lebih rentan terhadap manipulasi, eksploitasi, dan kekerasan seksual.

Buku Tubuhku Aman, Diriku Bermartabat hadir sebagai panduan bagi orang tua, guru, tenaga kesehatan, konselor, mahasiswa, dan pendamping dalam memberikan edukasi seksualitas yang aman, inklusif, dan menghormati martabat remaja dengan disabilitas intelektual. Buku ini membahas karakteristik dan kebutuhan dukungan remaja, perubahan tubuh selama pubertas, kebersihan diri dan organ reproduksi, batas tubuh, privasi, persetujuan, relasi sosial yang sehat, serta perilaku yang sesuai dengan tempat dan situasi.
Pembaca juga memperoleh panduan praktis untuk mengajarkan keterampilan perlindungan diri melalui bahasa yang sederhana, media visual, cerita sosial, kartu situasi, latihan peran, dan contoh percakapan sehari-hari. Pembahasan diperluas pada kesehatan reproduksi, keamanan menggunakan gawai dan media sosial, pengenalan tanda bahaya, cara menerima laporan kekerasan secara peka terhadap trauma, serta langkah melibatkan tenaga profesional dan layanan perlindungan.
Dengan pendekatan berbasis hak, empati, dan kolaborasi, buku ini menegaskan bahwa edukasi seksualitas bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan bagian penting dari perlindungan, kesehatan, dan kemandirian remaja. Melalui pendampingan yang konsisten antara keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan, remaja dengan disabilitas intelektual dapat belajar mengenali tubuhnya, menjaga privasi, menyatakan penolakan, mencari pertolongan, dan tumbuh sebagai pribadi yang aman, mandiri, serta bermartabat.