Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Dayar Arbain | Amri Bakhtiar | Deddi Prima Putra | Nurainas
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 817 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Buku ini memuat informasi ilmiah yang tersedia dengan mencantumkan referensinya de- ngan lengkap, sehingga kalau ada hal-hal yang menarik perhatian pembaca, yang bersang- kutan akan dapat melakukan penelusuran lanjutan tentang infomasi yang diperlukan sesuai daftar referensi yang tersedia.
Mengenai judul Tumbuhan Obat Sumatra bukan berarti jenis tumbuhan yang terdapat dalam buku ini tumbuhan asli Sumatra dan hanya digunakan oleh berbagai suku di Suma- tra untuk pengobatan dengan kegunaan dan cara pakai yang berbeda dengan penggunaan di berbagai belahan lain bumi. Seperti yang terlihat pada tinjauan Botani, beberapa di antara jenis tumbuhan yang terdapat dalam buku ini juga digunakan oleh berbagai anak bangsa dari kelompok etnis yang berbeda dan bangsa lain di dunia dengan nama yang berbeda dan peng- gunaan yang bisa saja berbeda. Di samping itu beberapa tumbuhan yang terdapat dalam buku ini bukanlah tumbuhan asli Sumatra tapi berasal dari belahan lain bumi, tapi oleh orang Suma- tra sudah dianggap sebagai tumbuhan mereka sendiri dengan penggunaan secara tradisional yang khas pula.
Keberadaan tumbuhan Sumatra dapat dikelompokkan atas dua bagian besar. Tumbuhan yang terdapat di sepanjang bukit barisan di bagian barat Pulau Sumatra umumnya ditemukan juga di Pulau Jawa, dan di daerah subtropik seperti di Thailand, Myanmar, Filipina, India, dan Cina Selatan, sedangkan tumbuhan yang terdapat di dataran rendah bagian timur banyak yang sama dengan tumbuhan yang terdapat di Kalimantan dan Semenanjung Malaya.
Penulis : Dr. Apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm., Apt | Muhammad Riyadz Aqsha, S.Farm
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 270 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan flora luar biasa, termasuk beragam tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Keanekaragaman hayati ini didukung oleh kondisi geografis dan iklim tropis yang memungkinkan berbagai jenis tanaman tumbuh subur sepanjang tahun. Hutan tropis Indonesia menjadi habitat bagi ribuan spesies tumbuhan, banyak di antaranya belum sepenuhnya diteliti dan memiliki potensi besar dalam pengembangan obat herbal maupun modern. Kekayaan ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat sumber daya genetik penting di dunia.
Sejak dahulu, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan tanaman di sekitarnya untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit. Pemanfaatan tersebut dilakukan secara sederhana, seperti melalui rebusan, tumbukan, atau ramuan tradisional yang dikenal luas sebagai jamu. Praktik ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman empiris, tetapi juga pada pengamatan terhadap efek tanaman terhadap tubuh. Seiring waktu, penggunaan berkembang menjadi bagian dari sistem pengobatan tradisional yang terus digunakan hingga saat ini, baik di pedesaan maupun perkotaan.
Penulis : Fadrian
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 220 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Buku ini disusun sebagai bentuk kontribusi ilmiah dan praktis dalam mendukung penggunaan antibiotik yang rasional, efektif, dan berbasis bukti di lingkungan rumah sakit. Materi dalam buku ini merupakan hasil telaah literatur, pengalaman klinis, serta penelitian yang berkaitan dengan tatalaksana infeksi dan strategi pemilihan antibiotik pada berbagai kondisi klinis pada lingkup rumah sakit.
Penulis : Fadrian, Sp.PD, SubSp.PTI(K), FINASIM
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2025
Jumlah Halaman: 223 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Intoksikasi atau keracunan merupakan kondisi patologis yang timbul akibat paparan zat toksik dalam jumlah yang melebihi ambang toleransi biologis tubuh, dan dapat menyebabkan gangguan fungsional, kerusakan jaringan, hingga kematian. Menurut laporan World Health Organization (WHO), lebih dari 3 juta kasus keracunan pestisida terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai lebih dari 220.000 jiwa dan sebagian besar terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, data dari Pusat Informasi Racun dan Obat (PIR) mencatat peningkatan jumlah kasus keracunan akibat bahan kimia rumah tangga dan pestisida dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, data Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan bahwa dari 7.862 kasus kegawatdaruratan pada tahun 2020, sebanyak 3,2% di antaranya merupakan kasus keracunan, dengan 58,6% kasus diakibatkan oleh intoksikasi obat, terutama parasetamol dan benzodiazepin (PIR RSCM, 2020).
Dalam konteks klinis dan toksikologi medis, sumber intoksikasi sangat beragam, mulai dari zat kimia rumah tangga, industri (pestisida, bahan pembersih, logam berat, pelarut organik) dan hewan berbisa. Hewan berbisa seperti ular, tawon, serta beberapa jenis ubur-ubur juga menghasilkan toksin biologis yang dapat menimbulkan reaksi sistemik hingga fatal jika tidak segera ditangani.
Pemahaman terhadap konsep toksikokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi) serta toksikodinamik (mekanisme kerja zat toksik pada target organ) menjadi penting untuk menentukan pendekatan diagnosis dan terapi. Prinsip penanganan intoksikasi meliputi stabilisasi awal pasien, dekontaminasi, eliminasi racun dari tubuh, penggunaan antidotum spesifik bila tersedia, serta terapi suportif dan simptomatik. Deteksi laboratorium, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, juga sangat membantu dalam menentukan jenis racun dan tingkat keparahan paparan.