Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Yuliandre Darwis, Ismail Sualman, Noviy Hasanah, Arghita Aricindy, Yulkardi, Yunarti, Adam Ibnu Aulia, Billy Febrima Hidayat, Yunarti, Maskota Delfi, Yulkardi, Sidarta Pujiraharjo, Ana Fitriana Poerana, Dewi Noor Azijah, Elva Ronaning Roem, S. Bekti Istiyanto, Sarmiati, Winda Vanisya
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 139 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Konflik Gaza, yang kembali terjadi pada Oktober 2023 setelah serangan besar-besaran Hamas di wilayah Israel, telah membuka babak baru dalam sejarah peperangan modern. Respons militer Israel selanjutnya telah menyebabkan kerusakan besar di Jalur Gaza dan kematian puluhan ribu warga sipil. Namun, di luar medan perang fisik, perang lain sedang berlangsung—perang informasi dan narasi di dunia digital. Di ruang virtual ini, kebenaran, propaganda, dan emosi bercampur membentuk gambaran tentang siapa aktor moral, korban, dan pemenang konflik tersebut (Allan & Zelizer, 2023).
Era digital telah mengubah sifat komunikasi konflik. Jika di era sebelumnya informasi dikendalikan oleh kantor berita internasional seperti Reuters atau The Associated Press, kini media sosial memungkinkan siapa pun menjadi penyampai informasi. Rekaman langsung serangan, jenazah anak-anak, dan penghancuran rumah sakit disiarkan langsung ke seluruh dunia melalui smartphone dan merupakan unsur kunci dalam membentuk narasi global. Fenomena ini telah memunculkan istilah baru yang menarik perhatian para akademisi komunikasi — narasi perang digital (Hoskins, 2022).
Menurut Hoskins (2010), peperangan kontemporer bukan lagi sekadar bentrokan senjata, melainkan juga perebutan kendali atas makna. Dalam konteks Gaza, setiap gambar dan video yang disebarluaskan membawa pesan politik implisit: siapa yang menindas, siapa yang tertindas, dan siapa yang harus didukung. Narasi digital ini telah menjadi alat strategis untuk meraih simpati publik internasional, memobilisasi solidaritas, dan menekan pemerintah dunia melalui opini publik global.
Selain itu, peran algoritma platform digital juga memperkuat efek penyebaran emosi. Konten yang dramatis dan tragis seringkali menjangkau lebih luas, sementara laporan analitis atau netral tenggelam dalam lautan data. Situasi ini menunjukkan bagaimana logika komersial platform dapat memperkuat bias emosional dan membentuk "ekologi informasi" yang tidak seimbang (Bakir & McStay, 2018).
Penulis : Revaldi Alzikri, Anita Afriani Sinulingga, Silvi Cory, Farhan Rizki Rifandy, Sofia Trisni, Putiviola Elian Nasir, Saiman Pakpahan, Sahida Salma Fariza, Sofia Trisni, Silvi Cory, Virtuous Setyaka
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 118 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Perubahan besar dalam lanskap global abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh pergeseran kekuatan militer atau aliansi geopolitik, tetapi oleh transformasi digital yang merasuk ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Disrupsi teknologi informasi, ekspansi media sosial, kapitalisme platform, serta ledakan data telah mengubah cara negara membangun citra, masyarakat berinteraksi lintas batas, hingga bagaimana disiplin Ilmu Hubungan Internasional (HI) memetakan realitas dunia.
Buku bunga rampai ini lahir karena kesadaran bahwa era digital merupakan konteks tambahan dalam studi hubungan internasional, dan merupakan struktur baru yang membentuk praktik diplomasi, nation branding, produksi pengetahuan, hingga dinamika kekuasaan global. Lima tulisan dalam buku ini bergerak dari ranah praktik kebijakan publik hingga refleksi teoretis, dari strategi nation branding negara hingga peran komunitas fandom sebagai aktor diplomasi, serta dari transformasi asosiasi keilmuan hingga pembacaan ulang Marxisme dalam kapitalisme digital.
Secara garis besar, buku ini menempatkan transformasi digital sebagai benang merah yang menghubungkan tiga ranah utama: (1) diplomasi dan nation branding, (2) aktor non-negara dan komunitas digital, serta (3) transformasi epistemologis dalam disiplin HI dan ilmu sosial.
Tulisan pertama mengangkat kasus Thailand melalui strategi transformasi digital dalam nation branding pascapandemi COVID-19. Sebelum pandemi, Thailand merupakan salah satu destinasi wisata global terkemuka dengan hampir 40 juta kunjungan internasional pada 2019. Namun, ketergantungan yang besar pada pasar Tiongkok dan krisis kepercayaan akibat narasi negatif di ruang digital memperlihatkan rapuhnya model mass tourism tradisional. Melalui peran Tourism Authority of Thailand (TAT), Thailand melakukan reposisi strategi dari orientasi volume menuju value and trust, dengan memanfaatkan ekosistem digital Tiongkok sebagai arena utama pemulihan citra. Transformasi ini menunjukkan bahwa nation branding di era digital tidak lagi hanya tentang slogan seperti Amazing Thailand, tetapi tentang integrasi data analytics, kebijakan visa, sertifikasi keamanan digital, dan komunikasi berbasis platform.
Penulis : Prof. Dr. dr. Yuliarni Syafrita, SpN, Subs.NGD(K)
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 156 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Penyakit Alzheimer merupakan salah satu tantangan terbesar dalam neurologi modern. Seiring meningkatnya usia harapan hidup, jumlah individu yang hidup dengan gangguan kognitif dan demensia terus bertambah, membawa dampak yang tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga keluarga, caregiver, sistem pelayanan kesehatan, dan masyarakat secara keseluruhan.
Penulis : Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Rizki Yunanda, Sufi, Nazrina Zuryani, Jendrius, Mita Rosaliza, Achmad Hidir, Hesti Asriwandari, Kamaruddin Hasan, Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Sufi, Afrizal Tjoetra, Harmona Daulay, Novri Susan, Idham Irwansyah Idrus, Ardi Abbas
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 128 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Era digital telah membawa transformasi besar dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga mengubah pola pendidikan, budaya, ekonomi, hingga cara masyarakat membangun identitas sosialnya. Media digital menjadi ruang baru bagi pertukaran informasi, pembentukan solidaritas, sekaligus arena kontestasi nilai dan budaya. Di sisi lain, globalisasi yang semakin intens menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat lokal untuk mempertahankan identitas, kearifan budaya, serta nilai-nilai sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Buku ini hadir untuk memberikan gambaran mengenai berbagai dinamika sosial kontemporer tersebut melalui perspektif multidisipliner, khususnya dalam kajian sosiologi, pendidikan, media, dan budaya. Beragam tulisan yang terkumpul di dalam buku ini membahas isu-isu penting seperti transformasi metodologi penelitian sosial di era digital, media sosial dan pembentukan identitas digital, penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, peran organisasi masyarakat sipil dan asosiasi keilmuan, hingga tantangan sosial dalam sektor pariwisata dan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Keseluruhan tulisan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat modern, sekaligus memperlihatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai lokal sebagai fondasi sosial dan budaya.
Buku ini terdiri dari enam bab utama yang membahas beragam dinamika sosial kontemporer di era digital. Bab pertama membahas rekonfigurasi metodologi sosiologi di era digital, khususnya perubahan pendekatan penelitian sosial akibat perkembangan big data, media sosial, dan teknologi digital. Bab kedua mengkaji fenomena over-tourism dalam perspektif sosiologi pariwisata dengan menyoroti peran PHRI dalam mendukung tata kelola pariwisata berkelanjutan. Bab ketiga membahas pengembangan kurikulum pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal dan tantangan global, khususnya dalam konteks pendidikan di Aceh. Bab keempat mengulas internalisasi kearifan lokal Aceh dalam media baru melalui peran konten kreator digital di Kota Lhokseumawe. Selanjutnya, bab kelima menyoroti peran asosiasi keilmuan sebagai organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat program studi dan jejaring akademik. Sementara itu, bab keenam membahas media sosial sebagai arena pembentukan identitas dan solidaritas digital dalam masyarakat modern. Keseluruhan bab dalam buku ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi digital menghadirkan perubahan sosial yang kompleks, sekaligus membuka ruang bagi penguatan identitas lokal, pengembangan pendidikan, dan transformasi masyarakat kontemporer.