Print this page

Kepemilikan Tanah, Konflik Agraria dan Perlawanan Petani : Kajian Teoretis, Akar Masalah dan Pemetaan Gerakan

Penulis : Zaiyardam | Septi Utami | Selfi Mahat Putri | Kurnia Warman | Sitti Ba’itsati Dzakiyah 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 211 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam Sejarah Indonesia modern, memang tidak ditemukan sistem perbudakan seperti yang terjadi dalam Sejarah Amerika atau Afrika. Namun demikian, gaya perbudakan itu justru kental, terutama ketika memperlakukan masyarakat sebagai hamba sahaya. Hal itu terutama dalam kasus-kasus kepemilikan tanah, dimana penguasa berperilaku seperti paduka raja dan tuan tanah secara sewenang-wenang merampas tanah milik Masyarakat, sehingga Masyarakat sebagai pemilik sah dari tanah itu ditempatkan sebagai hamba sahaya, hamba yang harus mengabdi kepada paduka raja dan tuan tanah. Jelas sekali sikap, pikiran dan tindakan paduka raja dan tuan tanah itu mendapat tantangan dan perlawanan keras dari Masyarakat.
Mereka sesungguhnya bukan hamba sahaya, yang harus mengabdi kepada negara dan tuan tanah. Mereka adalah pemilik sah, kelompok Masyarakat yang sah dan diakui oleh hukum adat maupun hukum negara. Hukum yang seringkali diselewengkan oleh paduka raja dan tuan tanah. Simak kisah dibawah ini yang sikap paduka raja dan tuan tanah memperlakukan masyarakat seperti hamba sahaya. Perlakauan ini kemudian menimbulkan perlawanan dari Masyarakat. Jika berhadapan dengan petani, maka masalah utama Adalah tanah, terutama Ketika terjadi ekspansi Perkebunan (sawit).
Mengamati secara seksama tentang ekspansi Perkebunan sawit, terdapat berbagai persoalan didalamnya. Satu sisi, perkebunan sawit menjanjikan kesejahteraan Masyarakat. Namun di sisi lain, terjadi perampasan tanah, baik secara terselubung maupun secara terbuka. Aktor-aktor yang bermain didalamnya juga beragam banyak seperti penguasa (negara), penguasa tradisonal (penghulu) pengusaha, broker, aparat negara, aparat sipil negara dan preman. Mereka inilah yang memiliki andil besar sbagai sumber konflik dalam ekspansi kapitalis perkebunan sawit itu. Untuk mempertajam analisis, maka dirumuskan beberapa pertanyaan pokok yaitu; Bagaimana posisi paduka raja, tuan tanah dan hamba sahaya dalam konstalasi ekspansi kapitalism perkebunan sawit di Pasaman Barat? Mengapa konflik dan konflik kekerasan sampai bentrokan berdarah muncul di Nagari Kapa, Air Bangis, Kinali, dan Nagari Aia Gadang? Skenario seperti apa yang diinginkan setiap elemen (paduka raja, tuan tanah dan hamba sahaya) dalam persoalan penyelesaan konflik tanah.?

Read 19 times