27 Oktober 2026 In Berita

Penulis : Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Rizki Yunanda, Sufi, Nazrina Zuryani, Jendrius, Mita Rosaliza, Achmad Hidir, Hesti Asriwandari, Kamaruddin                         Hasan, Teuku Zulkarnaen, Bobby Rahman, Sufi, Afrizal Tjoetra, Harmona Daulay, Novri Susan, Idham Irwansyah Idrus, Ardi Abbas

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 128 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Era digital telah membawa transformasi besar dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga mengubah pola pendidikan, budaya, ekonomi, hingga cara masyarakat membangun identitas sosialnya. Media digital menjadi ruang baru bagi pertukaran informasi, pembentukan solidaritas, sekaligus arena kontestasi nilai dan budaya. Di sisi lain, globalisasi yang semakin intens menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat lokal untuk mempertahankan identitas, kearifan budaya, serta nilai-nilai sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Buku ini hadir untuk memberikan gambaran mengenai berbagai dinamika sosial kontemporer tersebut melalui perspektif multidisipliner, khususnya dalam kajian sosiologi, pendidikan, media, dan budaya. Beragam tulisan yang terkumpul di dalam buku ini membahas isu-isu penting seperti transformasi metodologi penelitian sosial di era digital, media sosial dan pembentukan identitas digital, penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, peran organisasi masyarakat sipil dan asosiasi keilmuan, hingga tantangan sosial dalam sektor pariwisata dan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Keseluruhan tulisan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat modern, sekaligus memperlihatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai lokal sebagai fondasi sosial dan budaya.
Buku ini terdiri dari enam bab utama yang membahas beragam dinamika sosial kontemporer di era digital. Bab pertama membahas rekonfigurasi metodologi sosiologi di era digital, khususnya perubahan pendekatan penelitian sosial akibat perkembangan big data, media sosial, dan teknologi digital. Bab kedua mengkaji fenomena over-tourism dalam perspektif sosiologi pariwisata dengan menyoroti peran PHRI dalam mendukung tata kelola pariwisata berkelanjutan. Bab ketiga membahas pengembangan kurikulum pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal dan tantangan global, khususnya dalam konteks pendidikan di Aceh. Bab keempat mengulas internalisasi kearifan lokal Aceh dalam media baru melalui peran konten kreator digital di Kota Lhokseumawe. Selanjutnya, bab kelima menyoroti peran asosiasi keilmuan sebagai organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat program studi dan jejaring akademik. Sementara itu, bab keenam membahas media sosial sebagai arena pembentukan identitas dan solidaritas digital dalam masyarakat modern. Keseluruhan bab dalam buku ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi digital menghadirkan perubahan sosial yang kompleks, sekaligus membuka ruang bagi penguatan identitas lokal, pengembangan pendidikan, dan transformasi masyarakat kontemporer.

20 Oktober 2026 In Berita

Penulis : Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 202 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Ilmu pengetahuan lahir dari kebutuhan akan prosedur pemeriksaan itu. Ia bukan kumpulan fakta, melainkan cara kerja untuk memperoleh, menguji, dan mengoreksi pernyataan tentang dunia. Setidaknya empat ciri melekat padanya. Ilmu bersifat empiris, artinya klaimnya berujung pada pengalaman yang dapat diamati. Ilmu bersifat sistematis, karena langkah-langkahnya tersusun dan bukan hasil lompatan intuisi semata. Ilmu bersifat terbuka pada kritik, sebab setiap temuan dipersilakan diuji ulang. Dan ilmu bersifat sementara, karena kesimpulan hari ini bisa digugurkan oleh bukti yang lebih baik esok hari.
Ciri terakhir itu yang paling sering disalahpahami. Banyak pembaca pemula mengira karya ilmiah harus melahirkan kepastian mutlak. Kenyataannya, kekuatan ilmu justru terletak pada kesediaannya untuk salah secara terbuka. Sebuah kesimpulan yang dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dibantah oleh bukti apa pun bukanlah kesimpulan ilmiah, melainkan pernyataan iman atau selera.
Sejarah pemikiran menyediakan dua jalan untuk sampai ke sana, dan keduanya masih hidup dalam praktik penelitian hari ini. Jalan empiris bertumpu pada pengamatan: pengetahuan dibangun dari kasus-kasus yang teramati, lalu ditarik menjadi pernyataan yang lebih umum. Jalan rasional bertumpu pada penalaran: pengetahuan diturunkan dari asas atau teori yang sudah ada menuju pernyataan yang lebih khusus. Penelitian modern jarang memilih satu dan membuang yang lain. Peneliti berangkat dari teori untuk menurunkan dugaan, menguji dugaan itu dengan data lapangan, lalu memakai hasilnya untuk memperbaiki teori. Gerak bolak-balik antara penalaran dan pengamatan inilah yang membuat pengetahuan ilmiah bertambah tanpa harus dimulai dari nol setiap kali.

13 November 2024 In Berita

Penulis: Prof. Dr. Afrizal, M.A, Fendi Agus Syaputra, M.Sos, Faruq El Pikaso, S.Sos, Zuldesni, M.A

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2024

Jumlah Halaman: 132 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Buku ini tentang dampak Perhutanan Sosial terhadap pengakuan dan pemulihan hak atas tanah masyarakat lokal dan Masyarakat Adat, khususnya Hutan Desa, Hutan Adat, dan Kemitraan Kehutanan. Kami menggunakan data di empat provinsi: Jambi, Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.

15 Jun 2023 In Berita

Penulis: Afrizal, Fendi Agus Syaputra, Faruq El Pikaso, Indah Sari Rahmaini

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2023

Jumlah Halaman: 85 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam perhadapan dengan hukum negara, keberadaan dan hak-hak MHA mengalami tantangan besar. Selain pendasaran di dalam hukum negara, persoalan kelembagaan adalah isu kunci yang perlu terus dikaji untuk menemukan bentuk-bentuk yang dapat menjawab tantangan jaman. Barangkali kata 'transformasi' dapat digunakan untuk menggambarkan tantangan institusional bagi berbagai komunitas MHA untuk menjawab persoalan pengakuan, perlindungan dan penghormatan atas keberadaan dan hak-hak MHA di tengah perkembangan pesat ekonomi industri dan perdagangan berbasis pendekatan pertumbuhan ekonomi nasional. Di dalam ekonomi 'modern' ini, efisiensi dan nilai guna semua proses produksi diukur di dalam ruang publik. Oleh karena itu peran institusi MHA yang dapat menjembatani ruang sosial di mana MHA berada dan ruang publik di mana masyarakat luas berada merupakan sebuah tantangan yang mau tidak mau harus dijawab. Sulit menghindari atau lari dari situasi ketegangan antara ruang sosial dan ruang publik ini. Ketegangan ini mungkin dapat dirasakan atau ditangkap nuansanya di dalam ungkapan-ungkapan 'tradisional' versus 'modern', 'hukum lokal/adat versus hukum negara', 'subsistensi versus akumulasi', sebagai contoh.
Dengan terbukanya dunia seperti sekarang ini, semua yang bersifat lokal menghadapi pertanyaan oleh masyarakatnya sendiri ketika berhadapan dengan berbagai sistem nilai, sistem sosial dan artifak-artifak baru yang tiba-tiba hadir di depan pintu rumah mereka. Ada ketegangan antara nilai yang dianut orang-orang tua dan generasi milenial: yang pamali bagi generasi tua bukan lagi pamali bagi generasi milenial; bahkan yang spiritual bagi generasi tua belum tentu spiritual bagi generasi milenial. Ada sebuah istilah dari seorang kepala kampung di Kabupaten Keerom, Papua, bahwa anak-anak muda sekarang telah menghadirkan 'iblis' di kampung mereka. Wujud dari 'iblis' tersebut adalah HP (handphone). Muara dari berbagai  ketegangan semacam ini ada di dalam pertanyaan tentang peran institusi-institusi yang ada bagi pengakuan, perlindungan dan penghormatan keberadaan dan hak-hak MHA. Untuk menjawab pertanyaan itulah riset ini dilakukan, dengan lingkup khusus masyarakat nagari di Sumatera Barat. Bahwa Sumatera Barat menjadi lokasi yang dipilih YMKL ada sejumlah pertimbangan yang mendasarinya.