Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Dr. Siska Efendi, SP., MP
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 251 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Kumbang koksi memiliki rekam jejak histori yang sangat panjang sebagai agens pengendali hayati di berbagai belahan dunia. Dokumentasi awal oleh Kirby dan Spence (1846) menyingkap bahwa pada awal abad ke-19, para petani di Inggris telah mempraktikkan konservasi dengan cara memelihara dan melindungi koloni kumbang koksi dari serangan burung pemangsa guna mengendalikan ledakan populasi kutu daun hop (Phorodon humuli). Paradigma ini memicu perluasan program introduksi antar-kawasan geografis berskala besar di fase berikutnya. Salah satu tonggak sejarah awal ditunjukkan melalui pelepasan spesies Coccinella undecimpunctata dari Eropa ke Selandia Baru pada tahun 1874 yang secara efektif menekan kepadatan populasi kutu daun pada tanaman buah serta vegetasi rumput pakan ternak (Gambar 1) (Dumbleton, 1936). Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan mendesak akan supresi pengendalian hayati terhadap kompleksitas hama eksotik mendorong Amerika Utara melakukan introduksi masif yang mencakup tidak kurang dari 179 spesies kumbang koksi sejak tahun 1900, di mana spesies superior Harmonia axyridis tercatat pertama kali dilepaskan sebagai agens pengendalian hayati klasik di benua tersebut pada tahun 1916 (Gambar 1) (Obrycki & Kring, 1998).
Penulis : Rina Marnita
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 205 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Kuantifikasi merupakan salah satu domain fundamental dalam struktur bahasa manusia karena berkaitan langsung dengan cara penutur memahami, membatasi, dan mengonseptualisasikan realitas. Dalam hampir semua bahasa, manusia tidak hanya menamai benda, tetapi juga menentukan berapa banyak, seberapa besar, atau sejauh mana suatu entitas dipahami dalam pengalaman sehari-hari. Oleh sebab itu, kuantifikasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan numerik, melainkan sebagai fenomena linguistik, kognitif, dan budaya yang kompleks.
Dalam kajian tipologi gramatikal, kuantifikasi melibatkan interaksi antara numeralia, classifier, penanda massa (mass markers), satuan ukuran, serta struktur sintaktis yang menghubungkannya dalam frasa nominal. Studi-studi lintas bahasa menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di dunia memiliki strategi yang sangat beragam dalam mengekspresikan kuantitas. Sebagian bahasa menggunakan sistem classifier secara produktif, sementara bahasa lain lebih mengandalkan struktur nominal atau satuan ukur leksikal. Variasi ini menunjukkan bahwa kuantifikasi merupakan salah satu area penting dalam tipologi linguistik karena berkaitan erat dengan cara bahasa mengorganisasi entitas dalam dunia pengalaman.
Kajian klasik yang dihimpun oleh Timothy Shopen (1985) memperlihatkan bahwa strategi kuantifikasi dalam bahasa sangat dipengaruhi oleh cara suatu bahasa membedakan entitas sebagai diskret (discrete entities) atau kontinu (continuous entities). Entitas diskret dipahami sebagai objek yang memiliki batas individual yang jelas dan dapat dihitung satu per satu, seperti manusia, hewan, atau benda tertentu. Sebaliknya, entitas kontinu dipahami sebagai substansi atau massa yang tidak secara inheren memiliki batas unit alami, seperti air, beras, pasir, atau cairan lainnya. Pembedaan ini menjadi dasar munculnya dua strategi kuantifikasi utama, yaitu menghitung (counting) dan mengukur (measuring).
Penulis : Hary Efendi | Zaiyardam | Siti Ba’isati Dzakiyah
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 194 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Keluarga dalam gambaran ideal sering dipahami sebagai ruang paling intim bagi manusia untuk beristirahat dari dunia kerja. Rumah dibayangkan sebagai tempat percakapan berlangsung, kehangatan dipelihara, dan waktu dibagi secara utuh di antara anggota keluarga (Purwati, 2026:18). Idealnya, “kerja” dipahami sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus menopang keberlangsungan kehidupan keluarga. Namun dalam kehidupan masyarakat modern, kerja sering kali justru menyita sebagian besar waktu dan energi individu sehingga memengaruhi relasi sosial dalam rumah tangga (Lefebvre, 1991:63).
Kondisi tersebut terlihat dalam kehidupan Joni Hendra sebagai seorang kepala keluarga yang merupakan mekanik distributor BBM. Pekerjaan ini menuntut ritme kerja panjang, mobilitas tinggi, dan jam kerja yang tidak menentu. Ia pergi ketika sebagian besar orang masih tidur dan pulang saat pagi mulai datang. Dalam situasi seperti ini, batas antara malam dan pagi menjadi kabur, waktu keluarga dipotong oleh tuntutan pekerjaan, sementara tubuh dipaksa terus bergerak mengikuti ritme industri dan distribusi. Di sisi lain, sang istri, Witrayeti, menjalani kehidupan domestik yang hampir tidak berubah dari hari ke hari. Aktivitas memasak, mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga menunggu kepulangan suami berlangsung dalam pola repetitif yang nyaris tanpa jeda. Kehidupan rumah tangga berjalan, tetapi dalam irama yang monoton dan sunyi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya bukan sesuatu yang sederhana. Henri Lefebvre dalam Critique of Everyday Life (1991) menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari merupakan ruang penting untuk memahami bagaimana modernitas bekerja melalui rutinitas, waktu, dan pembagian kerja sosial. Bagi Lefebvre, kehidupan sehari-hari adalah titik pertemuan antara kebutuhan manusia dan sistem sosial yang mengatur hidupnya. Rutinitas yang terus berulang perlahan membentuk keterasingan manusia terhadap waktu, tubuh, bahkan relasi sosialnya sendiri. Kehidupan yang tampak biasa justru menjadi ruang di mana tekanan ekonomi, disiplin kerja, dan tuntutan sosial bekerja paling nyata.
Penulis : Dr. Hamdani, MM, M.Si, Ak, CA, Cert.IPSAS, CFr.A, CACP, Asean-CPA | Dr. Efa Yonnedi, SE, MPPM, Akt, CA, CRGP
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 309 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Dalam teori, konsep dan praktek auditing dan akuntansi ada tiga istilah yang memiliki persamaan namun memiliki perbedaan dalam pengertiannya yakni audit kecurangan, audit forensik, dan audit investigasi. Fraud auditing adalah pemeriksaan khusus yang dirancang untuk mendeteksi, menyelidiki, dan mencegah tindakan kecurangan (fraud) seperti penipuan, penggelapan aset, atau manipulasi laporan keuangan. Sedangkan audit forensik adalah proses investigasi mendalam terhadap catatan dan transaksi keuangan untuk mendeteksi atau menyelidiki tindak kecurangan (fraud) dengan tujuan mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti yang sah agar dapat digunakan dalam proses hukum atau peradilan untuk membuktikan apakah kecurangan benar terjadi, mengidentifikasi pelakunya, dan mengumpulkan alat bukti hukum yang kuat. Selanjutnya audit investigasi adalah serangkaian proses sistematis dalam mencari, mengumpulkan, dan menganalisis bukti-bukti untuk mengungkap apakah suatu dugaan kecurangan (fraud) atau pelanggaran hukum benar-benar terjadi dengan tujuan menemukan fakta dan pelakunya guna mendukung tindakan hukum atau penyelesaian selanjutnya
Audit Kecurangan (Fraud Auditing) sudah diajarkan pada Program Studi Akuntasi yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri dan swasta sebagai mata kuliah. Materi ini menjadi bagian dari mata kuliah Akuntansi Sektor Publik, mengingat audit kecurangan memeliki keterkaitan dengan Audit Investigasi atau Akuntansi Forensik untuk kepentingan sektor publik. Meningkatnya kebutuhan akan auditor yang mampu melakukan Audit Investigasi Kerugian Keuangan Negara/Daerah maupun BUMN/BUMD membuka peluang bagi lulusan akuntansi menjalani profesi dan keahlian tersebut.