21 Agustus 2026 In Berita

Penulis : Prof. Dr. apt. Yufri Aldi, M.Si | Prof. Dr. apt. Salman, M.Si | Dr. Apt. Hansen Nasif, S.Si., Sp.FRS | Dr. apt. Meri Susanti, S.Si., M.Farm | Dr.apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm | Rezy Mulya Budiman, S.Farm | Asshiddiqie Hanif, S.Farm | Yudistio Arnoza, S.Farm | Vika Permata Gustam, S.Farm  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 137 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Keanekaragaman hayati yang beragam menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi penghasil bahan obat alam. Bahan obat alam yang paling banyak dimanfaatkan umumnya berasal dari tanaman atau biasa disebut sebagai Tanaman Obat (TO). Pengetahuan tentang tanaman obat dalam upaya menanggulangi masalah kesehatan merupakan warisan nenek moyang secara turun- temurun yang berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan (1).
Salah satu tanaman obat yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat adalah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (2). Tanaman tropis ini telah digunakan sebagai bahan pangan dan obat tradisional sejak diperkenalkan oleh bangsa Polinesia ke kawasan Asia Tenggara sekitar 2.000 tahun yang lalu (3). Berbagai bagian tanaman mengkudu, seperti buah, akar, daun, dan kulit batang, telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan, antara lain infeksi, peradangan, gangguan metabolik, serta gangguan pada sistem respirasi (4). Di antara bagian tanaman tersebut, buah mengkudu diketahui mengandung beragam senyawa bioaktif, terutama senyawa fenolik yang berperan sebagai mikronutrien penting (5). Beberapa senyawa yang telah diidentifikasi meliputi damnacanthal, scopoletin, morindaone, alizarin, aucubin, nordamnacanthal, rubiadin, serta senyawa antrakuinon lainnya (6). Di antara senyawa-senyawa tersebut, scopoletin merupakan salah satu komponen utama dengan kadar berkisar antara 0,44-0,51% pada ekstrak etanol buah mengkudu (7), yang diketahui memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Scopoletin diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, hepatoprotektif, antihiperlipidemia, serta memiliki aktivitas imunomodulator (8), termasuk menurunkan kadar IgE pada reaksi hipersensitivitas tipe I (9).

21 Agustus 2026 In Berita

Penulis : Robi Jaya Putra, S.Pd, M.I.Kom, CPR | Dr. Yesi Puspita, M.Si. CPPS  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 232 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Komunikasi adalah salah satu bagian terpenting dari kehidupan manusia. Sejak awal sejarah manusia, orang telah menggunakan suara mereka untuk berkomunikasi, berbagi ide, bercerita, memberikan instruksi, dan membangun hubungan. Bahkan ketika teknologi telah mengubah hampir setiap aspek cara kita hidup dan bekerja, suara manusia tetap menjadi salah satu alat paling ampuh yang kita miliki. Di dunia saat ini, kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif melalui suara lebih penting dari sebelumnya.
Komunikasi modern datang dalam berbagai bentuk. Kami mengirim email, memposting di media sosial, menulis laporan, dan menggunakan aplikasi percakapan setiap hari. Tetapi terlepas dari semua bentuk komunikasi tertulis ini, suara itu masih memiliki tempat khusus. Ketika kita mendengar seseorang berbicara, kita tidak hanya menerima kata-kata, kita juga mendengar emosi, kepercayaan diri, dan kepribadian. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teks saja sepenuhnya. Baik itu manajer yang memberikan instruksi, guru yang menjelaskan konsep, politisi yang menyampaikan pidato, atau pembuat konten yang berbicara dengan audiens mereka di YouTube, suara selalu menjadi pusat bagaimana pesan disampaikan dan diterima.
Bagian ini mengeksplorasi peran suara dalam komunikasi modern. Ini membahas mengapa suara itu penting, bagaimana ia berkembang di era digital, dan apa yang membuat komunikasi vokal begitu berbeda dan begitu kuat dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya. Memahami ide-ide ini adalah landasan yang sangat penting sebelum kita masuk lebih dalam ke keterampilan berbicara di depan umum.

21 Agustus 2026 In Berita

Penulis : Hefrizal Handra  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 276 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Hutang sektor publik merupakan salah satu isu yang paling penting, sekaligus paling kontroversial, dalam pengelolaan ekonomi modern. Hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya bebas dari hutang. Negara maju, negara berkembang, bahkan negara yang kaya sumber daya alam sekalipun, pada berbagai tahap pembangunan dan siklus ekonominya, pernah menggunakan hutang sebagai bagian dari strategi fiskal untuk membiayai kebutuhan negara. Hutang publik telah menjadi instrumen yang memungkinkan pemerintah membangun infrastruktur, memperluas layanan pendidikan dan kesehatan, menjaga stabilitas ekonomi pada masa krisis, serta mempercepat pembangunan ketika penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan.

Namun di balik peran strategis tersebut, hutang publik juga selalu menghadirkan pertanyaan yang mendasar dan sering menimbulkan perdebatan: sampai di mana hutang dapat dianggap sehat? Kapan hutang menjadi alat pembangunan, dan kapan hutang berubah menjadi sumber risiko fiskal? Apakah hutang yang besar selalu berbahaya? Apakah hutang yang rendah selalu aman? Bagaimana memastikan bahwa hutang yang digunakan hari ini tidak berubah menjadi beban yang menggadaikan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya buku ini.

Dalam diskursus publik, pembahasan tentang hutang sektor publik sering kali terjebak pada perdebatan yang terlalu sederhana. Tidak jarang penilaian terhadap kesehatan fiskal sebuah negara hanya didasarkan pada satu angka rasio hutang terhadap PDB. Ketika angka itu naik, muncul kekhawatiran bahwa negara sedang menuju krisis. Ketika angka itu rendah, muncul keyakinan bahwa kondisi fiskal pasti aman. Padahal realitas ekonomi jauh lebih kompleks. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa debt ratio yang tinggi tidak selalu berujung pada krisis, sementara debt ratio yang lebih rendah pun tidak otomatis menjamin stabilitas fiskal.

 

21 Agustus 2026 In Berita

Penulis : Ana Fitri Ramadani  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 147 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan administrasi kota. Salah satu contoh adalah penelitian Milone, membahas mengenai pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan sistem administrasi kota di Indonesia dengan membandingkan hasil sensus penduduk tahun 1930 dan 1961. Berikutnya adalah buku yang ditulis oleh Gusti Asnan berjudul Pemerintahan Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi. Buku tersebut membahas mengenai sejarah administrasi pemerintahan di Sumatera Barat. Sungguh pun pembahasan buku tersebut lebih mengarah kepada sejarah pemerintahan di Sumatera Barat, tetapi tidak melihat mengenai perubahan administrasi pemerintahan terhadap perkembangan kota.
Permasalahan perubahan administrasi pemerintahan menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas dalam penulisan sejarah kota, sama seperti yang terjadi pada kota Payakumbuh. Payakumbuh yang merupakan salah satu kota di dataran tinggi Sumatera Barat, memiliki keunikan dalam sistem administrasi pemerintahan selama hampir 30 tahun lebih. Payakumbuh di samping berkedudukan sebagai sebuah kotamadya juga merangkap sebagai ibukota dari Kabupaten Limopuluah Koto. Posisi istimewa tersebut berakar pada sejarah kota tersebut, yang merupakan bagian dan pusat pemerintahan dari Afdeeling Limopuluah Koto.
Nas dan Martin mengemukakan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda yang menjadikan Payakumbuh sebagai sebuah kota. Payakumbuh dikembangkan dengan melibatkan ke-13 kelarasan yang terdapat di Afdeeling Limopuluah Koto. Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan Nagari Koto nan Gadang dan Nagari Koto nan Ampek menjadi daerah kota Payakumbuh dan sebagai pusat administrasi dari pemerintah Afdeeling Limopuluah Koto.