Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Hefrizal Handra
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 276 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Hutang sektor publik merupakan salah satu isu yang paling penting, sekaligus paling kontroversial, dalam pengelolaan ekonomi modern. Hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya bebas dari hutang. Negara maju, negara berkembang, bahkan negara yang kaya sumber daya alam sekalipun, pada berbagai tahap pembangunan dan siklus ekonominya, pernah menggunakan hutang sebagai bagian dari strategi fiskal untuk membiayai kebutuhan negara. Hutang publik telah menjadi instrumen yang memungkinkan pemerintah membangun infrastruktur, memperluas layanan pendidikan dan kesehatan, menjaga stabilitas ekonomi pada masa krisis, serta mempercepat pembangunan ketika penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan.
Namun di balik peran strategis tersebut, hutang publik juga selalu menghadirkan pertanyaan yang mendasar dan sering menimbulkan perdebatan: sampai di mana hutang dapat dianggap sehat? Kapan hutang menjadi alat pembangunan, dan kapan hutang berubah menjadi sumber risiko fiskal? Apakah hutang yang besar selalu berbahaya? Apakah hutang yang rendah selalu aman? Bagaimana memastikan bahwa hutang yang digunakan hari ini tidak berubah menjadi beban yang menggadaikan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya buku ini.
Dalam diskursus publik, pembahasan tentang hutang sektor publik sering kali terjebak pada perdebatan yang terlalu sederhana. Tidak jarang penilaian terhadap kesehatan fiskal sebuah negara hanya didasarkan pada satu angka rasio hutang terhadap PDB. Ketika angka itu naik, muncul kekhawatiran bahwa negara sedang menuju krisis. Ketika angka itu rendah, muncul keyakinan bahwa kondisi fiskal pasti aman. Padahal realitas ekonomi jauh lebih kompleks. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa debt ratio yang tinggi tidak selalu berujung pada krisis, sementara debt ratio yang lebih rendah pun tidak otomatis menjamin stabilitas fiskal.
Penulis : Ana Fitri Ramadani
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 147 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan administrasi kota. Salah satu contoh adalah penelitian Milone, membahas mengenai pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan sistem administrasi kota di Indonesia dengan membandingkan hasil sensus penduduk tahun 1930 dan 1961. Berikutnya adalah buku yang ditulis oleh Gusti Asnan berjudul Pemerintahan Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi. Buku tersebut membahas mengenai sejarah administrasi pemerintahan di Sumatera Barat. Sungguh pun pembahasan buku tersebut lebih mengarah kepada sejarah pemerintahan di Sumatera Barat, tetapi tidak melihat mengenai perubahan administrasi pemerintahan terhadap perkembangan kota.
Permasalahan perubahan administrasi pemerintahan menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas dalam penulisan sejarah kota, sama seperti yang terjadi pada kota Payakumbuh. Payakumbuh yang merupakan salah satu kota di dataran tinggi Sumatera Barat, memiliki keunikan dalam sistem administrasi pemerintahan selama hampir 30 tahun lebih. Payakumbuh di samping berkedudukan sebagai sebuah kotamadya juga merangkap sebagai ibukota dari Kabupaten Limopuluah Koto. Posisi istimewa tersebut berakar pada sejarah kota tersebut, yang merupakan bagian dan pusat pemerintahan dari Afdeeling Limopuluah Koto.
Nas dan Martin mengemukakan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda yang menjadikan Payakumbuh sebagai sebuah kota. Payakumbuh dikembangkan dengan melibatkan ke-13 kelarasan yang terdapat di Afdeeling Limopuluah Koto. Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan Nagari Koto nan Gadang dan Nagari Koto nan Ampek menjadi daerah kota Payakumbuh dan sebagai pusat administrasi dari pemerintah Afdeeling Limopuluah Koto.
Penulis : Dr. Siska Efendi, SP., MP
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 251 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Kumbang koksi memiliki rekam jejak histori yang sangat panjang sebagai agens pengendali hayati di berbagai belahan dunia. Dokumentasi awal oleh Kirby dan Spence (1846) menyingkap bahwa pada awal abad ke-19, para petani di Inggris telah mempraktikkan konservasi dengan cara memelihara dan melindungi koloni kumbang koksi dari serangan burung pemangsa guna mengendalikan ledakan populasi kutu daun hop (Phorodon humuli). Paradigma ini memicu perluasan program introduksi antar-kawasan geografis berskala besar di fase berikutnya. Salah satu tonggak sejarah awal ditunjukkan melalui pelepasan spesies Coccinella undecimpunctata dari Eropa ke Selandia Baru pada tahun 1874 yang secara efektif menekan kepadatan populasi kutu daun pada tanaman buah serta vegetasi rumput pakan ternak (Gambar 1) (Dumbleton, 1936). Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan mendesak akan supresi pengendalian hayati terhadap kompleksitas hama eksotik mendorong Amerika Utara melakukan introduksi masif yang mencakup tidak kurang dari 179 spesies kumbang koksi sejak tahun 1900, di mana spesies superior Harmonia axyridis tercatat pertama kali dilepaskan sebagai agens pengendalian hayati klasik di benua tersebut pada tahun 1916 (Gambar 1) (Obrycki & Kring, 1998).
Penulis : Rina Marnita
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 205 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Kuantifikasi merupakan salah satu domain fundamental dalam struktur bahasa manusia karena berkaitan langsung dengan cara penutur memahami, membatasi, dan mengonseptualisasikan realitas. Dalam hampir semua bahasa, manusia tidak hanya menamai benda, tetapi juga menentukan berapa banyak, seberapa besar, atau sejauh mana suatu entitas dipahami dalam pengalaman sehari-hari. Oleh sebab itu, kuantifikasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan numerik, melainkan sebagai fenomena linguistik, kognitif, dan budaya yang kompleks.
Dalam kajian tipologi gramatikal, kuantifikasi melibatkan interaksi antara numeralia, classifier, penanda massa (mass markers), satuan ukuran, serta struktur sintaktis yang menghubungkannya dalam frasa nominal. Studi-studi lintas bahasa menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di dunia memiliki strategi yang sangat beragam dalam mengekspresikan kuantitas. Sebagian bahasa menggunakan sistem classifier secara produktif, sementara bahasa lain lebih mengandalkan struktur nominal atau satuan ukur leksikal. Variasi ini menunjukkan bahwa kuantifikasi merupakan salah satu area penting dalam tipologi linguistik karena berkaitan erat dengan cara bahasa mengorganisasi entitas dalam dunia pengalaman.
Kajian klasik yang dihimpun oleh Timothy Shopen (1985) memperlihatkan bahwa strategi kuantifikasi dalam bahasa sangat dipengaruhi oleh cara suatu bahasa membedakan entitas sebagai diskret (discrete entities) atau kontinu (continuous entities). Entitas diskret dipahami sebagai objek yang memiliki batas individual yang jelas dan dapat dihitung satu per satu, seperti manusia, hewan, atau benda tertentu. Sebaliknya, entitas kontinu dipahami sebagai substansi atau massa yang tidak secara inheren memiliki batas unit alami, seperti air, beras, pasir, atau cairan lainnya. Pembedaan ini menjadi dasar munculnya dua strategi kuantifikasi utama, yaitu menghitung (counting) dan mengukur (measuring).