Print this page

Hubungan Internasional di Era Digital

Penulis :  Revaldi Alzikri, Anita Afriani Sinulingga, Silvi Cory, Farhan Rizki Rifandy, Sofia Trisni, Putiviola Elian Nasir, Saiman Pakpahan, Sahida Salma Fariza, Sofia                 Trisni, Silvi Cory, Virtuous Setyaka

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 118 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Perubahan besar dalam lanskap global abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh pergeseran kekuatan militer atau aliansi geopolitik, tetapi oleh transformasi digital yang merasuk ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Disrupsi teknologi informasi, ekspansi media sosial, kapitalisme platform, serta ledakan data telah mengubah cara negara membangun citra, masyarakat berinteraksi lintas batas, hingga bagaimana disiplin Ilmu Hubungan Internasional (HI) memetakan realitas dunia.
Buku bunga rampai ini lahir karena kesadaran bahwa era digital merupakan konteks tambahan dalam studi hubungan internasional, dan merupakan struktur baru yang membentuk praktik diplomasi, nation branding, produksi pengetahuan, hingga dinamika kekuasaan global. Lima tulisan dalam buku ini bergerak dari ranah praktik kebijakan publik hingga refleksi teoretis, dari strategi nation branding negara hingga peran komunitas fandom sebagai aktor diplomasi, serta dari transformasi asosiasi keilmuan hingga pembacaan ulang Marxisme dalam kapitalisme digital.
Secara garis besar, buku ini menempatkan transformasi digital sebagai benang merah yang menghubungkan tiga ranah utama: (1) diplomasi dan nation branding, (2) aktor non-negara dan komunitas digital, serta (3) transformasi epistemologis dalam disiplin HI dan ilmu sosial.
Tulisan pertama mengangkat kasus Thailand melalui strategi transformasi digital dalam nation branding pascapandemi COVID-19. Sebelum pandemi, Thailand merupakan salah satu destinasi wisata global terkemuka dengan hampir 40 juta kunjungan internasional pada 2019. Namun, ketergantungan yang besar pada pasar Tiongkok dan krisis kepercayaan akibat narasi negatif di ruang digital memperlihatkan rapuhnya model mass tourism tradisional. Melalui peran Tourism Authority of Thailand (TAT), Thailand melakukan reposisi strategi dari orientasi volume menuju value and trust, dengan memanfaatkan ekosistem digital Tiongkok sebagai arena utama pemulihan citra. Transformasi ini menunjukkan bahwa nation branding di era digital tidak lagi hanya tentang slogan seperti Amazing Thailand, tetapi tentang integrasi data analytics, kebijakan visa, sertifikasi keamanan digital, dan komunikasi berbasis platform.

Read 10 times