13 Juli 2026 In Berita

Penulis : Tutty Ariani, Gardenia Akhyar

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 202 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dermatofitosis merupakan kelompok infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh dermatofita, yaitu kelompok jamur filamentosa yang memiliki kemampuan menghasilkan enzim keratinase untuk mendegradasi keratin pada jaringan superfisial seperti stratum korneum, batang rambut, dan lempeng kuku. Infeksi ini terbatas pada lapisan epidermis dan jarang menembus jaringan yang lebih dalam, meskipun reaksi inflamasi dapat bervariasi tergantung respon imun inang dan jenis jamur penyebab.1,2
Dermatofitosis menyebar secara luas di dunia dan menjadi masalah kesehatan kulit yang paling sering ditemui dalam praktik klinis. Faktor iklim tropis dengan kelembapan tinggi, penggunaan alas kaki tertutup, kepadatan penduduk, serta kebiasaan higienis berperan penting dalam peningkatan angka kejadian infeksi jamur superfisial di negara berkembang.3 Selain memengaruhi kesehatan kulit secara fisik, infeksi dermatofita berdampak pada kualitas hidup pasien, karena dapat menimbulkan rasa gatal, ketidaknyamanan, gangguan estetika, hingga beban psikologis akibat stigma sosial.4

13 Juli 2026 In Berita

Penulis : Qaira Anum, Vesri Yossy 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 200 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah keputihan merupakan sebutan yang sangat umum digunakan oleh masyarakat dengan keluhan keluarnya cairan dari kemaluan perempuan selain darah. Istilah ini dikenal luas di berbagai budaya dan sering menjadi keluhan utama perempuan dalam praktik klinis, khususnya di bidang venereologi dan kesehatan reproduksi. Keputihan kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal dan memalukan, sehingga tidak jarang pasien menunda untuk mencari pertolongan medis. Persepsi ini dipengaruhi oleh minimnya edukasi kesehatan reproduksi, norma sosial, serta stigma yang melekat pada keluhan yang berkaitan dengan organ intim.1
Di kalangan awam, keputihan sering diidentikkan dengan kondisi penyakit, infeksi menular seksual atau kebersihan diri yang buruk. Cairan yang keluar dari vagina, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, sering kali langsung diasosiasikan sebagai tanda adanya gangguan kesehatan. Padahal, secara fisiologis, vagina memang memproduksi sekret yang berfungsi menjaga kelembapan, kebersihan, serta keseimbangan lingkungan mikrobiologis. Kurangnya pemahaman mengenai perbedaan antara keputihan normal dan abnormal atau patologis menyebabkan kecemasan berlebihan pada sebagian perempuan, sementara sebagian lainnya justru mengabaikan gejala yang seharusnya mendapat perhatian medis.1,2