Berita

Berita (666)

Penulis : Prof. Dr. apt. Yufri Aldi, M.Si | Prof. Dr. apt. Salman, M.Si | Dr. Apt. Hansen Nasif, S.Si., Sp.FRS | Dr. apt. Meri Susanti, S.Si., M.Farm | Dr.apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm | Rezy Mulya Budiman, S.Farm | Asshiddiqie Hanif, S.Farm | Yudistio Arnoza, S.Farm | Vika Permata Gustam, S.Farm  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 137 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Keanekaragaman hayati yang beragam menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi penghasil bahan obat alam. Bahan obat alam yang paling banyak dimanfaatkan umumnya berasal dari tanaman atau biasa disebut sebagai Tanaman Obat (TO). Pengetahuan tentang tanaman obat dalam upaya menanggulangi masalah kesehatan merupakan warisan nenek moyang secara turun- temurun yang berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan (1).
Salah satu tanaman obat yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat adalah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (2). Tanaman tropis ini telah digunakan sebagai bahan pangan dan obat tradisional sejak diperkenalkan oleh bangsa Polinesia ke kawasan Asia Tenggara sekitar 2.000 tahun yang lalu (3). Berbagai bagian tanaman mengkudu, seperti buah, akar, daun, dan kulit batang, telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan, antara lain infeksi, peradangan, gangguan metabolik, serta gangguan pada sistem respirasi (4). Di antara bagian tanaman tersebut, buah mengkudu diketahui mengandung beragam senyawa bioaktif, terutama senyawa fenolik yang berperan sebagai mikronutrien penting (5). Beberapa senyawa yang telah diidentifikasi meliputi damnacanthal, scopoletin, morindaone, alizarin, aucubin, nordamnacanthal, rubiadin, serta senyawa antrakuinon lainnya (6). Di antara senyawa-senyawa tersebut, scopoletin merupakan salah satu komponen utama dengan kadar berkisar antara 0,44-0,51% pada ekstrak etanol buah mengkudu (7), yang diketahui memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Scopoletin diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, hepatoprotektif, antihiperlipidemia, serta memiliki aktivitas imunomodulator (8), termasuk menurunkan kadar IgE pada reaksi hipersensitivitas tipe I (9).

Penulis : Robi Jaya Putra, S.Pd, M.I.Kom, CPR | Dr. Yesi Puspita, M.Si. CPPS  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 232 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Komunikasi adalah salah satu bagian terpenting dari kehidupan manusia. Sejak awal sejarah manusia, orang telah menggunakan suara mereka untuk berkomunikasi, berbagi ide, bercerita, memberikan instruksi, dan membangun hubungan. Bahkan ketika teknologi telah mengubah hampir setiap aspek cara kita hidup dan bekerja, suara manusia tetap menjadi salah satu alat paling ampuh yang kita miliki. Di dunia saat ini, kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif melalui suara lebih penting dari sebelumnya.
Komunikasi modern datang dalam berbagai bentuk. Kami mengirim email, memposting di media sosial, menulis laporan, dan menggunakan aplikasi percakapan setiap hari. Tetapi terlepas dari semua bentuk komunikasi tertulis ini, suara itu masih memiliki tempat khusus. Ketika kita mendengar seseorang berbicara, kita tidak hanya menerima kata-kata, kita juga mendengar emosi, kepercayaan diri, dan kepribadian. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teks saja sepenuhnya. Baik itu manajer yang memberikan instruksi, guru yang menjelaskan konsep, politisi yang menyampaikan pidato, atau pembuat konten yang berbicara dengan audiens mereka di YouTube, suara selalu menjadi pusat bagaimana pesan disampaikan dan diterima.
Bagian ini mengeksplorasi peran suara dalam komunikasi modern. Ini membahas mengapa suara itu penting, bagaimana ia berkembang di era digital, dan apa yang membuat komunikasi vokal begitu berbeda dan begitu kuat dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya. Memahami ide-ide ini adalah landasan yang sangat penting sebelum kita masuk lebih dalam ke keterampilan berbicara di depan umum.

Penulis : Hefrizal Handra  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 276 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Hutang sektor publik merupakan salah satu isu yang paling penting, sekaligus paling kontroversial, dalam pengelolaan ekonomi modern. Hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya bebas dari hutang. Negara maju, negara berkembang, bahkan negara yang kaya sumber daya alam sekalipun, pada berbagai tahap pembangunan dan siklus ekonominya, pernah menggunakan hutang sebagai bagian dari strategi fiskal untuk membiayai kebutuhan negara. Hutang publik telah menjadi instrumen yang memungkinkan pemerintah membangun infrastruktur, memperluas layanan pendidikan dan kesehatan, menjaga stabilitas ekonomi pada masa krisis, serta mempercepat pembangunan ketika penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan.

Namun di balik peran strategis tersebut, hutang publik juga selalu menghadirkan pertanyaan yang mendasar dan sering menimbulkan perdebatan: sampai di mana hutang dapat dianggap sehat? Kapan hutang menjadi alat pembangunan, dan kapan hutang berubah menjadi sumber risiko fiskal? Apakah hutang yang besar selalu berbahaya? Apakah hutang yang rendah selalu aman? Bagaimana memastikan bahwa hutang yang digunakan hari ini tidak berubah menjadi beban yang menggadaikan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya buku ini.

Dalam diskursus publik, pembahasan tentang hutang sektor publik sering kali terjebak pada perdebatan yang terlalu sederhana. Tidak jarang penilaian terhadap kesehatan fiskal sebuah negara hanya didasarkan pada satu angka rasio hutang terhadap PDB. Ketika angka itu naik, muncul kekhawatiran bahwa negara sedang menuju krisis. Ketika angka itu rendah, muncul keyakinan bahwa kondisi fiskal pasti aman. Padahal realitas ekonomi jauh lebih kompleks. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa debt ratio yang tinggi tidak selalu berujung pada krisis, sementara debt ratio yang lebih rendah pun tidak otomatis menjamin stabilitas fiskal.

 

Penulis : Ana Fitri Ramadani  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 147 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan administrasi kota. Salah satu contoh adalah penelitian Milone, membahas mengenai pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan sistem administrasi kota di Indonesia dengan membandingkan hasil sensus penduduk tahun 1930 dan 1961. Berikutnya adalah buku yang ditulis oleh Gusti Asnan berjudul Pemerintahan Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi. Buku tersebut membahas mengenai sejarah administrasi pemerintahan di Sumatera Barat. Sungguh pun pembahasan buku tersebut lebih mengarah kepada sejarah pemerintahan di Sumatera Barat, tetapi tidak melihat mengenai perubahan administrasi pemerintahan terhadap perkembangan kota.
Permasalahan perubahan administrasi pemerintahan menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas dalam penulisan sejarah kota, sama seperti yang terjadi pada kota Payakumbuh. Payakumbuh yang merupakan salah satu kota di dataran tinggi Sumatera Barat, memiliki keunikan dalam sistem administrasi pemerintahan selama hampir 30 tahun lebih. Payakumbuh di samping berkedudukan sebagai sebuah kotamadya juga merangkap sebagai ibukota dari Kabupaten Limopuluah Koto. Posisi istimewa tersebut berakar pada sejarah kota tersebut, yang merupakan bagian dan pusat pemerintahan dari Afdeeling Limopuluah Koto.
Nas dan Martin mengemukakan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda yang menjadikan Payakumbuh sebagai sebuah kota. Payakumbuh dikembangkan dengan melibatkan ke-13 kelarasan yang terdapat di Afdeeling Limopuluah Koto. Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan Nagari Koto nan Gadang dan Nagari Koto nan Ampek menjadi daerah kota Payakumbuh dan sebagai pusat administrasi dari pemerintah Afdeeling Limopuluah Koto.

Penulis : Dr. Siska Efendi, SP., MP  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 251 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Kumbang koksi memiliki rekam jejak histori yang sangat panjang sebagai agens pengendali hayati di berbagai belahan dunia. Dokumentasi awal oleh Kirby dan Spence (1846) menyingkap bahwa pada awal abad ke-19, para petani di Inggris telah mempraktikkan konservasi dengan cara memelihara dan melindungi koloni kumbang koksi dari serangan burung pemangsa guna mengendalikan ledakan populasi kutu daun hop (Phorodon humuli). Paradigma ini memicu perluasan program introduksi antar-kawasan geografis berskala besar di fase berikutnya. Salah satu tonggak sejarah awal ditunjukkan melalui pelepasan spesies Coccinella undecimpunctata dari Eropa ke Selandia Baru pada tahun 1874 yang secara efektif menekan kepadatan populasi kutu daun pada tanaman buah serta vegetasi rumput pakan ternak (Gambar 1) (Dumbleton, 1936). Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan mendesak akan supresi pengendalian hayati terhadap kompleksitas hama eksotik mendorong Amerika Utara melakukan introduksi masif yang mencakup tidak kurang dari 179 spesies kumbang koksi sejak tahun 1900, di mana spesies superior Harmonia axyridis tercatat pertama kali dilepaskan sebagai agens pengendalian hayati klasik di benua tersebut pada tahun 1916 (Gambar 1) (Obrycki & Kring, 1998).

Penulis : Rina Marnita  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 205 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Kuantifikasi merupakan salah satu domain fundamental dalam struktur bahasa manusia karena berkaitan langsung dengan cara penutur memahami, membatasi, dan mengonseptualisasikan realitas. Dalam hampir semua bahasa, manusia tidak hanya menamai benda, tetapi juga menentukan berapa banyak, seberapa besar, atau sejauh mana suatu entitas dipahami dalam pengalaman sehari-hari. Oleh sebab itu, kuantifikasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan numerik, melainkan sebagai fenomena linguistik, kognitif, dan budaya yang kompleks.
Dalam kajian tipologi gramatikal, kuantifikasi melibatkan interaksi antara numeralia, classifier, penanda massa (mass markers), satuan ukuran, serta struktur sintaktis yang menghubungkannya dalam frasa nominal. Studi-studi lintas bahasa menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di dunia memiliki strategi yang sangat beragam dalam mengekspresikan kuantitas. Sebagian bahasa menggunakan sistem classifier secara produktif, sementara bahasa lain lebih mengandalkan struktur nominal atau satuan ukur leksikal. Variasi ini menunjukkan bahwa kuantifikasi merupakan salah satu area penting dalam tipologi linguistik karena berkaitan erat dengan cara bahasa mengorganisasi entitas dalam dunia pengalaman.
Kajian klasik yang dihimpun oleh Timothy Shopen (1985) memperlihatkan bahwa strategi kuantifikasi dalam bahasa sangat dipengaruhi oleh cara suatu bahasa membedakan entitas sebagai diskret (discrete entities) atau kontinu (continuous entities). Entitas diskret dipahami sebagai objek yang memiliki batas individual yang jelas dan dapat dihitung satu per satu, seperti manusia, hewan, atau benda tertentu. Sebaliknya, entitas kontinu dipahami sebagai substansi atau massa yang tidak secara inheren memiliki batas unit alami, seperti air, beras, pasir, atau cairan lainnya. Pembedaan ini menjadi dasar munculnya dua strategi kuantifikasi utama, yaitu menghitung (counting) dan mengukur (measuring).

Penulis : Hary Efendi | Zaiyardam | Siti Ba’isati Dzakiyah  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 194 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Keluarga dalam gambaran ideal sering dipahami sebagai ruang paling intim bagi manusia untuk beristirahat dari dunia kerja. Rumah dibayangkan sebagai tempat percakapan berlangsung, kehangatan dipelihara, dan waktu dibagi secara utuh di antara anggota keluarga (Purwati, 2026:18). Idealnya, “kerja” dipahami sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus menopang keberlangsungan kehidupan keluarga. Namun dalam kehidupan masyarakat modern, kerja sering kali justru menyita sebagian besar waktu dan energi individu sehingga memengaruhi relasi sosial dalam rumah tangga (Lefebvre, 1991:63).
Kondisi tersebut terlihat dalam kehidupan Joni Hendra sebagai seorang kepala keluarga yang merupakan mekanik distributor BBM. Pekerjaan ini menuntut ritme kerja panjang, mobilitas tinggi, dan jam kerja yang tidak menentu. Ia pergi ketika sebagian besar orang masih tidur dan pulang saat pagi mulai datang. Dalam situasi seperti ini, batas antara malam dan pagi menjadi kabur, waktu keluarga dipotong oleh tuntutan pekerjaan, sementara tubuh dipaksa terus bergerak mengikuti ritme industri dan distribusi. Di sisi lain, sang istri, Witrayeti, menjalani kehidupan domestik yang hampir tidak berubah dari hari ke hari. Aktivitas memasak, mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga menunggu kepulangan suami berlangsung dalam pola repetitif yang nyaris tanpa jeda. Kehidupan rumah tangga berjalan, tetapi dalam irama yang monoton dan sunyi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya bukan sesuatu yang sederhana. Henri Lefebvre dalam Critique of Everyday Life (1991) menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari merupakan ruang penting untuk memahami bagaimana modernitas bekerja melalui rutinitas, waktu, dan pembagian kerja sosial. Bagi Lefebvre, kehidupan sehari-hari adalah titik pertemuan antara kebutuhan manusia dan sistem sosial yang mengatur hidupnya. Rutinitas yang terus berulang perlahan membentuk keterasingan manusia terhadap waktu, tubuh, bahkan relasi sosialnya sendiri. Kehidupan yang tampak biasa justru menjadi ruang di mana tekanan ekonomi, disiplin kerja, dan tuntutan sosial bekerja paling nyata.

Penulis : Dr. Hamdani, MM, M.Si, Ak, CA, Cert.IPSAS, CFr.A, CACP, Asean-CPA | Dr. Efa Yonnedi, SE, MPPM, Akt, CA, CRGP  

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 309 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam teori, konsep dan praktek auditing dan akuntansi ada tiga istilah yang memiliki persamaan namun memiliki perbedaan dalam pengertiannya yakni audit kecurangan, audit forensik, dan audit investigasi. Fraud auditing adalah pemeriksaan khusus yang dirancang untuk mendeteksi, menyelidiki, dan mencegah tindakan kecurangan (fraud) seperti penipuan, penggelapan aset, atau manipulasi laporan keuangan. Sedangkan audit forensik adalah proses investigasi mendalam terhadap catatan dan transaksi keuangan untuk mendeteksi atau menyelidiki tindak kecurangan (fraud) dengan tujuan mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti yang sah agar dapat digunakan dalam proses hukum atau peradilan untuk membuktikan apakah kecurangan benar terjadi, mengidentifikasi pelakunya, dan mengumpulkan alat bukti hukum yang kuat. Selanjutnya audit investigasi adalah serangkaian proses sistematis dalam mencari, mengumpulkan, dan menganalisis bukti-bukti untuk mengungkap apakah suatu dugaan kecurangan (fraud) atau pelanggaran hukum benar-benar terjadi dengan tujuan menemukan fakta dan pelakunya guna mendukung tindakan hukum atau penyelesaian selanjutnya
Audit Kecurangan (Fraud Auditing) sudah diajarkan pada Program Studi Akuntasi yang diselenggarakan perguruan tinggi negeri dan swasta sebagai mata kuliah. Materi ini menjadi bagian dari mata kuliah Akuntansi Sektor Publik, mengingat audit kecurangan memeliki keterkaitan dengan Audit Investigasi atau Akuntansi Forensik untuk kepentingan sektor publik. Meningkatnya kebutuhan akan auditor yang mampu melakukan Audit Investigasi Kerugian Keuangan Negara/Daerah maupun BUMN/BUMD membuka peluang bagi lulusan akuntansi menjalani profesi dan keahlian tersebut.

Penulis : Prof. Ir. Syafii, ST, MT, PhD | Imra Nur Izrillah, ST 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 201 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Perkembangan penetrasi energi terbarukan yang semakin besar dalam sistem tenaga listrik menuntut adanya perubahan pendekatan dalam perencanaan dan pengoperasian sistem tenaga. Karakteristik intermiten dan ketidakpastian daya keluaran pembangkit energi terbarukan menimbulkan tantangan baru terhadap stabilitas, keandalan, kualitas daya, serta keseimbangan operasi sistem tenaga listrik. Oleh karena itu, buku ini membahas berbagai aspek penting dalam perencanaan sistem tenaga terintegrasi, mulai dari proyeksi kebutuhan daya, integrasi pembangkit energi terbarukan, analisis reserve margin, dan stabilitas sistem tenaga.
Materi dalam buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun praktisi di bidang teknik elektro dan sistem tenaga listrik, khususnya pada mata kuliah Perencanaan Sistem Tenaga Listrik, Analisa Sistem Tenaga, Energi Terbarukan, dan Smart Grid. Buku ini disusun dengan menggabungkan pendekatan teoritis dan aplikatif agar pembaca memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perencanaan sistem tenaga listrik pada era transisi energi menuju Net Zero Emission. Beberapa ilustrasi dan gambar dalam buku ini dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan ChatGPT dan selanjutnya disesuaikan oleh penulis untuk mendukung kebutuhan visual dan penyampaian materi.

Penulis : Zaiyardam | Septi Utami | Selfi Mahat Putri | Kurnia Warman | Sitti Ba’itsati Dzakiyah 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 211 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam Sejarah Indonesia modern, memang tidak ditemukan sistem perbudakan seperti yang terjadi dalam Sejarah Amerika atau Afrika. Namun demikian, gaya perbudakan itu justru kental, terutama ketika memperlakukan masyarakat sebagai hamba sahaya. Hal itu terutama dalam kasus-kasus kepemilikan tanah, dimana penguasa berperilaku seperti paduka raja dan tuan tanah secara sewenang-wenang merampas tanah milik Masyarakat, sehingga Masyarakat sebagai pemilik sah dari tanah itu ditempatkan sebagai hamba sahaya, hamba yang harus mengabdi kepada paduka raja dan tuan tanah. Jelas sekali sikap, pikiran dan tindakan paduka raja dan tuan tanah itu mendapat tantangan dan perlawanan keras dari Masyarakat.
Mereka sesungguhnya bukan hamba sahaya, yang harus mengabdi kepada negara dan tuan tanah. Mereka adalah pemilik sah, kelompok Masyarakat yang sah dan diakui oleh hukum adat maupun hukum negara. Hukum yang seringkali diselewengkan oleh paduka raja dan tuan tanah. Simak kisah dibawah ini yang sikap paduka raja dan tuan tanah memperlakukan masyarakat seperti hamba sahaya. Perlakauan ini kemudian menimbulkan perlawanan dari Masyarakat. Jika berhadapan dengan petani, maka masalah utama Adalah tanah, terutama Ketika terjadi ekspansi Perkebunan (sawit).
Mengamati secara seksama tentang ekspansi Perkebunan sawit, terdapat berbagai persoalan didalamnya. Satu sisi, perkebunan sawit menjanjikan kesejahteraan Masyarakat. Namun di sisi lain, terjadi perampasan tanah, baik secara terselubung maupun secara terbuka. Aktor-aktor yang bermain didalamnya juga beragam banyak seperti penguasa (negara), penguasa tradisonal (penghulu) pengusaha, broker, aparat negara, aparat sipil negara dan preman. Mereka inilah yang memiliki andil besar sbagai sumber konflik dalam ekspansi kapitalis perkebunan sawit itu. Untuk mempertajam analisis, maka dirumuskan beberapa pertanyaan pokok yaitu; Bagaimana posisi paduka raja, tuan tanah dan hamba sahaya dalam konstalasi ekspansi kapitalism perkebunan sawit di Pasaman Barat? Mengapa konflik dan konflik kekerasan sampai bentrokan berdarah muncul di Nagari Kapa, Air Bangis, Kinali, dan Nagari Aia Gadang? Skenario seperti apa yang diinginkan setiap elemen (paduka raja, tuan tanah dan hamba sahaya) dalam persoalan penyelesaan konflik tanah.?