16 September 2026 In Berita

Penulis : Dr. dr. Dwitya Elvira, Sp.PD-KAI.FINASIM | Dr. dr. Effy Huriyanti, Sp.THT-KL(K) | Dr. dr. Havriza Vitresia, Sp.M(K) | Dr. dr. Gardenia Akhyar, Sp.DVE(K) | Dr. Fenty Anggraini. Sp.P(K)

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 65 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Rinitis secara luas didefinisikan sebagai peradangan pada mukosa hidung. Ini merupakan gangguan yang umum terjadi dan dapat memengaruhi hingga 40% populasi.1 Rinitis alergi (RA) dianggap sebagai gangguan yang terbatas pada hidung dan saluran hidung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini dapat merupakan bagian dari penyakit saluran napas sistemik yang melibatkan seluruh traktus respiratorius.2 Gejala rinitis alergi meliputi hidung gatal, bersin berulang, cairan hidung yang jernih dan hidung tersumbat yang bersifat hilang timbul atau reversibel, secara spontan atau dengan pengobatan.3
Rinitis alergi (RA) memiliki prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, dan penatalaksanaan klinisnya masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, RA memberikan beban yang signifikan baik bagi individu maupun masyarakat.4 Rhintis alergi ini juga berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk produktivitas, pola tidur, interaksi sosial, gaya hidup, serta kemampuan bekerja.5 Penelitian lain menunjukkan bahwa rhinitis alergi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lain seperti pusing, sakit kepala, gatal-gatal di berbagai bagian tubuh, telinga terasa penuh, dan masalah kesehatan lainnya.6Tujuan tatalaksana dan pemberian terapi pada pasien dengan rhinitis alergi adalah didasarkan pada penggunaan obat-obatan yang bertujuan menghilangkan atau mengurangi gejala alergi, dan imunoterapi alergen (allergen immunotherapy) yang dirancang untuk memodifikasi respons imun terhadap alergen penyebab rhinitis alergi.7 Obat-obatan tersebut meliputi antihistamin intranasal dan oral, kortikosteroid intranasal, oral, dan injeksi, dekongestan oral dan intranasal, antagonis reseptor leukotrien, kromolin oral, antikolinergik intranasal, serta terapi biologik (omalizumab).