Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Hary Efendi | Zaiyardam | Siti Ba’isati Dzakiyah
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 194 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Keluarga dalam gambaran ideal sering dipahami sebagai ruang paling intim bagi manusia untuk beristirahat dari dunia kerja. Rumah dibayangkan sebagai tempat percakapan berlangsung, kehangatan dipelihara, dan waktu dibagi secara utuh di antara anggota keluarga (Purwati, 2026:18). Idealnya, “kerja” dipahami sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus menopang keberlangsungan kehidupan keluarga. Namun dalam kehidupan masyarakat modern, kerja sering kali justru menyita sebagian besar waktu dan energi individu sehingga memengaruhi relasi sosial dalam rumah tangga (Lefebvre, 1991:63).
Kondisi tersebut terlihat dalam kehidupan Joni Hendra sebagai seorang kepala keluarga yang merupakan mekanik distributor BBM. Pekerjaan ini menuntut ritme kerja panjang, mobilitas tinggi, dan jam kerja yang tidak menentu. Ia pergi ketika sebagian besar orang masih tidur dan pulang saat pagi mulai datang. Dalam situasi seperti ini, batas antara malam dan pagi menjadi kabur, waktu keluarga dipotong oleh tuntutan pekerjaan, sementara tubuh dipaksa terus bergerak mengikuti ritme industri dan distribusi. Di sisi lain, sang istri, Witrayeti, menjalani kehidupan domestik yang hampir tidak berubah dari hari ke hari. Aktivitas memasak, mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga menunggu kepulangan suami berlangsung dalam pola repetitif yang nyaris tanpa jeda. Kehidupan rumah tangga berjalan, tetapi dalam irama yang monoton dan sunyi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya bukan sesuatu yang sederhana. Henri Lefebvre dalam Critique of Everyday Life (1991) menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari merupakan ruang penting untuk memahami bagaimana modernitas bekerja melalui rutinitas, waktu, dan pembagian kerja sosial. Bagi Lefebvre, kehidupan sehari-hari adalah titik pertemuan antara kebutuhan manusia dan sistem sosial yang mengatur hidupnya. Rutinitas yang terus berulang perlahan membentuk keterasingan manusia terhadap waktu, tubuh, bahkan relasi sosialnya sendiri. Kehidupan yang tampak biasa justru menjadi ruang di mana tekanan ekonomi, disiplin kerja, dan tuntutan sosial bekerja paling nyata.
Penulis : Dr. M.A. Dalmenda, S.Sos, M.Si | Dr. Yuliandre Darwis, M.Mass.Com., Ph.D | M. Fedro Syafiola, S.Sos., M.Sos
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 229 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Buku Komunikasi Politik dalam Sistem Adat Minangkabau ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik yang memperkaya khazanah ilmu komunikasi politik sekaligus membuka wawasan baru mengenai pentingnya kearifan lokal dalam membangun sistem komunikasi yang demokratis, inklusif, dan berakar pada budaya. Melalui kajian yang komprehensif, buku ini tidak hanya menjelaskan konsep dan teori komunikasi politik, tetapi juga mengintegrasikannya dengan praktik nyata dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang sarat nilai, simbol, dan tradisi. Dengan demikian, buku ini dapat menjadi referensi penting bagi mahasiswa, akademisi, praktisi, serta siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap dinamika komunikasi politik berbasis budaya lokal, sekaligus mendorong upaya pelestarian dan pengembangan sistem adat sebagai kekuatan sosial di tengah arus perubahan zaman.
Penulis : Lindawati
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 198 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Peribahasa adalah bahagian dari bahasa kias. Bagi masyarakat Minangkabau, kiasan adalah ekpresi bahasa yang penting. Demikian pentingnya sampai-sampai orang yang tidak arif dengan kiasan dikatakan indak tahu diampek, indak tahu dikato bayang, indak tahu di ujuang kato sampai, indak baraso-raso 'tidak mengerti paham bahasa kias'. Banyak penilaian negatif bila seseorang tidak faham dengan kiasan.
Penulis : Daratullaila Nasri
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 105 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Minangkabau merupakan salah satu wilayah di Nusantara yang memiliki naskah kuno (manuskrip) yang sangat signifikan, baik dari segi jumlah maupun keragaman isinya. Sejumlah penelitian filologis menunjukkan bahwa naskah Minangkabau mencapai ribuan eksemplar yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Barat. Prof, Pramono, seorang filolog dari Universitas Andalas menyebutkan bahwa 1.235 telah berhasil didigitalkan, sementara sekitar seribuan lainnya telah melalui restorasi sebagai upaya pelestarian (wawancara lisan, 2026). Temuan ini sejalan dengan hasil inventarisasi sebelumnya yang mencatat bahwa koleksi naskah Minangkabau tidak hanya berada dalam institusi formal, tetapi juga tersebar luas di tengah masyarakat sebagai koleksi pribadi yang diwariskan secara turun-temurun. Hal itu memperlihatkan bahwa tradisi literasi sosial ini hidup di ruang sosial, bukan semata-mata di lembaga arsip formal (Susena, 2013).
Secara geografis dan institusional, naskah-naskah Minangkabau tersebar di beberapa tempat, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia, koleksi tersebut dapat ditemukan di Perpustakaan nasional republik Indonesia, Museum Adiyawarman, Lembaga kearsipan daerah, Minangkabau Corner di Universitas Andalas, SURI, dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol. Selain itu, pusat dokumentasi budaya seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) juga menjadi ruang penyimpanan dan kajian naskah-naskah tersebut. Di luar negeri, jumlah naskah yang cukup besar tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Belanda, Jerman, Inggris, sebagai konsekuensi dari sejarah kolonial dan aktivitas pengumpulan naskah oleh orientalis. Menariknya, selain lembaga formal, surau-surau tradisional di Minangkabau juga berfungis sebagai pusat produksi sekaligus penyimpanan naskah, yang dalam konteks filologi dapat disebut sebagai scriptorium lokal (Susena, dkk., 2013). Bahkan, beberapa studi menemukan ratusan naskah tersimpan di surau tertentu, menegaskan bahwa peran institusi keagamaan dalam transmisi pengetahuan (Pramono, 2015)