Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Haura Atthahara, Yesi Puspita, Emeraldy Chatra, Ilham Havifi, Robi Jaya Putra, Revi Marta, Misbah El Yaser, Dewi Anggraini, Zulfadli, Lusi Puspika Sari, Hanny Purnamasari, Rozidateno Putri Hanida, Rayla Osvita Putri, Lolita Deby Mahendra Putri, Dewi Noor Azijah
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 124 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Keterlibatan perempuan dalam politik merupakan salah satu indikator fundamental bagi kualitas demokrasi. Demokrasi pada prinsipnya mengandung makna partisipasi setara dari seluruh warga negara tanpa diskriminasi, termasuk diskriminasi berdasarkan gender (Kristina & Iskandar, 2022). Oleh karena itu, keterwakilan perempuan dalam lembaga politik tidak hanya dipandang sebagai isu keadilan sosial, tetapi juga sebagai prasyarat bagi terwujudnya demokrasi yang substantif dan inklusif. Secara teoretis, hubungan antara gender dan demokrasi berakar pada konsep democratic inclusiveness bahwa demokrasi sejati menuntut partisipasi seluruh kelompok sosial dalam proses pengambilan keputusan publik (Pramudita et al., 2020). Dalam konteks ini, gender menjadi variabel penting karena struktur sosial dan politik selama ini cenderung memusatkan kekuasaan pada laki-laki. Demokrasi yang tidak sensitif gender berpotensi menghasilkan kebijakan yang bias dan gagal mencerminkan kepentingan seluruh warga negara (Tias et al., 2023). Dengan demikian, keterlibatan perempuan di parlemen tidak sekadar memperbanyak jumlah kursi yang diisi oleh perempuan, tetapi juga menjadi sarana korektif terhadap defisit representasi dalam sistem demokrasi.
Penulis : Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 202 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Ilmu pengetahuan lahir dari kebutuhan akan prosedur pemeriksaan itu. Ia bukan kumpulan fakta, melainkan cara kerja untuk memperoleh, menguji, dan mengoreksi pernyataan tentang dunia. Setidaknya empat ciri melekat padanya. Ilmu bersifat empiris, artinya klaimnya berujung pada pengalaman yang dapat diamati. Ilmu bersifat sistematis, karena langkah-langkahnya tersusun dan bukan hasil lompatan intuisi semata. Ilmu bersifat terbuka pada kritik, sebab setiap temuan dipersilakan diuji ulang. Dan ilmu bersifat sementara, karena kesimpulan hari ini bisa digugurkan oleh bukti yang lebih baik esok hari.
Ciri terakhir itu yang paling sering disalahpahami. Banyak pembaca pemula mengira karya ilmiah harus melahirkan kepastian mutlak. Kenyataannya, kekuatan ilmu justru terletak pada kesediaannya untuk salah secara terbuka. Sebuah kesimpulan yang dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dibantah oleh bukti apa pun bukanlah kesimpulan ilmiah, melainkan pernyataan iman atau selera.
Sejarah pemikiran menyediakan dua jalan untuk sampai ke sana, dan keduanya masih hidup dalam praktik penelitian hari ini. Jalan empiris bertumpu pada pengamatan: pengetahuan dibangun dari kasus-kasus yang teramati, lalu ditarik menjadi pernyataan yang lebih umum. Jalan rasional bertumpu pada penalaran: pengetahuan diturunkan dari asas atau teori yang sudah ada menuju pernyataan yang lebih khusus. Penelitian modern jarang memilih satu dan membuang yang lain. Peneliti berangkat dari teori untuk menurunkan dugaan, menguji dugaan itu dengan data lapangan, lalu memakai hasilnya untuk memperbaiki teori. Gerak bolak-balik antara penalaran dan pengamatan inilah yang membuat pengetahuan ilmiah bertambah tanpa harus dimulai dari nol setiap kali.
Penulis : Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 241 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Setiap bangunan ilmu yang kita kenal hari ini, mulai dari ilmu alam yang menjelaskan gerak planet sampai ilmu sosial yang menafsirkan perilaku manusia, bermula dari sesuatu yang tampak sederhana, yaitu keinginan untuk memahami. Sebelum ada laboratorium, jurnal ilmiah, dan gelar akademik, yang ada lebih dahulu adalah manusia yang merasa heran terhadap dunia di sekitarnya dan tidak puas hanya menerima keadaan apa adanya. Bab ini mengajak pembaca menelusuri titik awal itu dan menempatkan falsafah ilmu sebagai upaya untuk memahami bagaimana pengetahuan lahir, disusun, dan dipertanggungjawabkan. Pembahasan dimulai dari rasa ingin tahu sebagai sumber pengetahuan, dilanjutkan dengan hubungan antara filsafat dan ilmu, lalu ditutup dengan ruang lingkup serta kedudukan falsafah ilmu itu sendiri.
Penulis : Dr. dr. Dwitya Elvira, Sp.PD-KAI.FINASIM | Dr. dr. Effy Huriyanti, Sp.THT-KL(K) | Dr. dr. Havriza Vitresia, Sp.M(K) | Dr. dr. Gardenia Akhyar, Sp.DVE(K) | Dr. Fenty Anggraini. Sp.P(K)
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 65 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Rinitis secara luas didefinisikan sebagai peradangan pada mukosa hidung. Ini merupakan gangguan yang umum terjadi dan dapat memengaruhi hingga 40% populasi.1 Rinitis alergi (RA) dianggap sebagai gangguan yang terbatas pada hidung dan saluran hidung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini dapat merupakan bagian dari penyakit saluran napas sistemik yang melibatkan seluruh traktus respiratorius.2 Gejala rinitis alergi meliputi hidung gatal, bersin berulang, cairan hidung yang jernih dan hidung tersumbat yang bersifat hilang timbul atau reversibel, secara spontan atau dengan pengobatan.3
Rinitis alergi (RA) memiliki prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, dan penatalaksanaan klinisnya masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, RA memberikan beban yang signifikan baik bagi individu maupun masyarakat.4 Rhintis alergi ini juga berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk produktivitas, pola tidur, interaksi sosial, gaya hidup, serta kemampuan bekerja.5 Penelitian lain menunjukkan bahwa rhinitis alergi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lain seperti pusing, sakit kepala, gatal-gatal di berbagai bagian tubuh, telinga terasa penuh, dan masalah kesehatan lainnya.6Tujuan tatalaksana dan pemberian terapi pada pasien dengan rhinitis alergi adalah didasarkan pada penggunaan obat-obatan yang bertujuan menghilangkan atau mengurangi gejala alergi, dan imunoterapi alergen (allergen immunotherapy) yang dirancang untuk memodifikasi respons imun terhadap alergen penyebab rhinitis alergi.7 Obat-obatan tersebut meliputi antihistamin intranasal dan oral, kortikosteroid intranasal, oral, dan injeksi, dekongestan oral dan intranasal, antagonis reseptor leukotrien, kromolin oral, antikolinergik intranasal, serta terapi biologik (omalizumab).