Unand Press
Untuk Kejayaan Bangsa
Penulis : Robi Jaya Putra, S.Pd, M.I.Kom, CPR | Dr. Yesi Puspita, M.Si. CPPS
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 232 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Komunikasi adalah salah satu bagian terpenting dari kehidupan manusia. Sejak awal sejarah manusia, orang telah menggunakan suara mereka untuk berkomunikasi, berbagi ide, bercerita, memberikan instruksi, dan membangun hubungan. Bahkan ketika teknologi telah mengubah hampir setiap aspek cara kita hidup dan bekerja, suara manusia tetap menjadi salah satu alat paling ampuh yang kita miliki. Di dunia saat ini, kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif melalui suara lebih penting dari sebelumnya.
Komunikasi modern datang dalam berbagai bentuk. Kami mengirim email, memposting di media sosial, menulis laporan, dan menggunakan aplikasi percakapan setiap hari. Tetapi terlepas dari semua bentuk komunikasi tertulis ini, suara itu masih memiliki tempat khusus. Ketika kita mendengar seseorang berbicara, kita tidak hanya menerima kata-kata, kita juga mendengar emosi, kepercayaan diri, dan kepribadian. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teks saja sepenuhnya. Baik itu manajer yang memberikan instruksi, guru yang menjelaskan konsep, politisi yang menyampaikan pidato, atau pembuat konten yang berbicara dengan audiens mereka di YouTube, suara selalu menjadi pusat bagaimana pesan disampaikan dan diterima.
Bagian ini mengeksplorasi peran suara dalam komunikasi modern. Ini membahas mengapa suara itu penting, bagaimana ia berkembang di era digital, dan apa yang membuat komunikasi vokal begitu berbeda dan begitu kuat dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya. Memahami ide-ide ini adalah landasan yang sangat penting sebelum kita masuk lebih dalam ke keterampilan berbicara di depan umum.
Penulis : Hefrizal Handra
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 276 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Hutang sektor publik merupakan salah satu isu yang paling penting, sekaligus paling kontroversial, dalam pengelolaan ekonomi modern. Hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya bebas dari hutang. Negara maju, negara berkembang, bahkan negara yang kaya sumber daya alam sekalipun, pada berbagai tahap pembangunan dan siklus ekonominya, pernah menggunakan hutang sebagai bagian dari strategi fiskal untuk membiayai kebutuhan negara. Hutang publik telah menjadi instrumen yang memungkinkan pemerintah membangun infrastruktur, memperluas layanan pendidikan dan kesehatan, menjaga stabilitas ekonomi pada masa krisis, serta mempercepat pembangunan ketika penerimaan negara tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan.
Namun di balik peran strategis tersebut, hutang publik juga selalu menghadirkan pertanyaan yang mendasar dan sering menimbulkan perdebatan: sampai di mana hutang dapat dianggap sehat? Kapan hutang menjadi alat pembangunan, dan kapan hutang berubah menjadi sumber risiko fiskal? Apakah hutang yang besar selalu berbahaya? Apakah hutang yang rendah selalu aman? Bagaimana memastikan bahwa hutang yang digunakan hari ini tidak berubah menjadi beban yang menggadaikan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya buku ini.
Dalam diskursus publik, pembahasan tentang hutang sektor publik sering kali terjebak pada perdebatan yang terlalu sederhana. Tidak jarang penilaian terhadap kesehatan fiskal sebuah negara hanya didasarkan pada satu angka rasio hutang terhadap PDB. Ketika angka itu naik, muncul kekhawatiran bahwa negara sedang menuju krisis. Ketika angka itu rendah, muncul keyakinan bahwa kondisi fiskal pasti aman. Padahal realitas ekonomi jauh lebih kompleks. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa debt ratio yang tinggi tidak selalu berujung pada krisis, sementara debt ratio yang lebih rendah pun tidak otomatis menjamin stabilitas fiskal.
Penulis : Ana Fitri Ramadani
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 147 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan administrasi kota. Salah satu contoh adalah penelitian Milone, membahas mengenai pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan sistem administrasi kota di Indonesia dengan membandingkan hasil sensus penduduk tahun 1930 dan 1961. Berikutnya adalah buku yang ditulis oleh Gusti Asnan berjudul Pemerintahan Sumatera Barat dari VOC hingga Reformasi. Buku tersebut membahas mengenai sejarah administrasi pemerintahan di Sumatera Barat. Sungguh pun pembahasan buku tersebut lebih mengarah kepada sejarah pemerintahan di Sumatera Barat, tetapi tidak melihat mengenai perubahan administrasi pemerintahan terhadap perkembangan kota.
Permasalahan perubahan administrasi pemerintahan menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas dalam penulisan sejarah kota, sama seperti yang terjadi pada kota Payakumbuh. Payakumbuh yang merupakan salah satu kota di dataran tinggi Sumatera Barat, memiliki keunikan dalam sistem administrasi pemerintahan selama hampir 30 tahun lebih. Payakumbuh di samping berkedudukan sebagai sebuah kotamadya juga merangkap sebagai ibukota dari Kabupaten Limopuluah Koto. Posisi istimewa tersebut berakar pada sejarah kota tersebut, yang merupakan bagian dan pusat pemerintahan dari Afdeeling Limopuluah Koto.
Nas dan Martin mengemukakan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda yang menjadikan Payakumbuh sebagai sebuah kota. Payakumbuh dikembangkan dengan melibatkan ke-13 kelarasan yang terdapat di Afdeeling Limopuluah Koto. Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan Nagari Koto nan Gadang dan Nagari Koto nan Ampek menjadi daerah kota Payakumbuh dan sebagai pusat administrasi dari pemerintah Afdeeling Limopuluah Koto.
Penulis : Dr. Siska Efendi, SP., MP
ISBN:
Bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, 2026
Jumlah Halaman: 251 halaman
Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm
Sinopsis :
Kumbang koksi memiliki rekam jejak histori yang sangat panjang sebagai agens pengendali hayati di berbagai belahan dunia. Dokumentasi awal oleh Kirby dan Spence (1846) menyingkap bahwa pada awal abad ke-19, para petani di Inggris telah mempraktikkan konservasi dengan cara memelihara dan melindungi koloni kumbang koksi dari serangan burung pemangsa guna mengendalikan ledakan populasi kutu daun hop (Phorodon humuli). Paradigma ini memicu perluasan program introduksi antar-kawasan geografis berskala besar di fase berikutnya. Salah satu tonggak sejarah awal ditunjukkan melalui pelepasan spesies Coccinella undecimpunctata dari Eropa ke Selandia Baru pada tahun 1874 yang secara efektif menekan kepadatan populasi kutu daun pada tanaman buah serta vegetasi rumput pakan ternak (Gambar 1) (Dumbleton, 1936). Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan mendesak akan supresi pengendalian hayati terhadap kompleksitas hama eksotik mendorong Amerika Utara melakukan introduksi masif yang mencakup tidak kurang dari 179 spesies kumbang koksi sejak tahun 1900, di mana spesies superior Harmonia axyridis tercatat pertama kali dilepaskan sebagai agens pengendalian hayati klasik di benua tersebut pada tahun 1916 (Gambar 1) (Obrycki & Kring, 1998).