21 Juli 2026 In Berita

Penulis : Revaldi Alzikri, Anita Afriani Sinulingga, Silvi Cory, Farhan Rizki Rifaldy, Sofia Trisna, Putiviola Elian Nasir, Saiman Pakpahan, Sahida Salma Fariza, Virtuous Setyaka 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 116 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Dalam sejarah industri pariwisata modern, jarang sekali terjadi sebuah negara menghadapi krisis multidimensi seperti yang dialami Thailand pada awal dekade 2020-an. Sebagai sebuah negara yang perekonomiannya memiliki keterkaitan erat dengan industri pariwisata yang menyumbang sekitar 18-20% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebelum pandemi covid-19, Thailand menikmati statusnya sebagai “Land of Smiles,” yang menjanjikan keindahan tropis, keramahan budaya, dan terjangkau. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada awal 2020 menjadi katalisator yang memicu terjadinya kerentanan struktural model pariwisata massal (mass tourism) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kerajaan Thailand.
Sebelum Pandemi Covid-19, pada tahun 2019, Thailand menyambut hampir 40 juta wisatawan internasional, sebuah angka yang menempatkan Thailand berada di jajaran elite destinasi pariwisata global. Dari jumlah tersebut, pasar Tiongkok memegang peranan yang sangat dominan, menyumbang sekitar 11 juta pengunjung atau sekitar 27,6% dari total kedatangan secara keseluruhan. Kondisi ketergantungan pada pasar tunggal ini, yang sering disebut dalam literatur ekonomi pariwisata sebagai “Dominasi Tiongkok,” menjadi pedang bermata dua yang tajam bagi Thailand. Ketika Tiongkok menutup perbatasannya dengan kebijakan Zero-COVID yang ketat, perekonomian pariwisata Thailand nyaris terhenti, memicu permasalahan ekonomi yang parah dan hilangnya jutaan lapangan kerja di sektor jasa.