16 April 2026 In Berita

Penulis : Prof. Dr. Adlis Santoni, M.S | Prof. Dr. Mai Efdi, M.Si | Prof. Dr. Suryati, M.Si

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 164 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Senyawa metabolit sekunder, seperti morfin, nikotin, quercetin, resveratrol, artemisinin, erythromycin, tanin, saponin, limonena, dan linalool, menjadi harta karun kimiawi alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia. Senyawa-senyawa ini berperan sebagai senjata utama tanaman melawan hama, patogen, dan stres lingkungan. Buku Mengenal Senyawa Metabolit Sekunder: Analisa dan Aplikasinya mengungkap jalur biosintesis utama serta metode ekstraksi, isolasi, dan identifikasi struktural menggunakan spektroskopi modern. Buku ini juga menyoroti aplikasi luas metabolit sekunder dalam farmasi, pangan, pertanian, dan bioteknologi, termasuk obat antikanker, antibiotik, antioksidan, serta pestisida alami ramah lingkungan. Dengan bahasa jelas dan ilustrasi pendukung, buku ini menjadi panduan praktis bagi peneliti, mahasiswa, dan profesional untuk memanfaatkan potensi inovatif metabolit sekunder tanaman demi solusi kesehatan, pangan, dan lingkungan yang berkelanjutan.

30 April 2025 In Berita

Penulis : Fadrian, Sp.PD, SubSp.PTI(K), FINASIM

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2025

Jumlah Halaman: 223 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Intoksikasi atau keracunan merupakan kondisi patologis yang timbul akibat paparan zat toksik dalam jumlah yang melebihi ambang toleransi biologis tubuh, dan dapat menyebabkan gangguan fungsional, kerusakan jaringan, hingga kematian. Menurut laporan World Health Organization (WHO), lebih dari 3 juta kasus keracunan pestisida terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai lebih dari 220.000 jiwa dan sebagian besar terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, data dari Pusat Informasi Racun dan Obat (PIR) mencatat peningkatan jumlah kasus keracunan akibat bahan kimia rumah tangga dan pestisida dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, data Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan bahwa dari 7.862 kasus kegawatdaruratan pada tahun 2020, sebanyak 3,2% di antaranya merupakan kasus keracunan, dengan 58,6% kasus diakibatkan oleh intoksikasi obat, terutama parasetamol dan benzodiazepin (PIR RSCM, 2020).
Dalam konteks klinis dan toksikologi medis, sumber intoksikasi sangat beragam, mulai dari zat kimia rumah tangga, industri (pestisida, bahan pembersih, logam berat, pelarut organik) dan hewan berbisa. Hewan berbisa seperti ular, tawon, serta beberapa jenis ubur-ubur juga menghasilkan toksin biologis yang dapat menimbulkan reaksi sistemik hingga fatal jika tidak segera ditangani.
Pemahaman terhadap konsep toksikokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi) serta toksikodinamik (mekanisme kerja zat toksik pada target organ) menjadi penting untuk menentukan pendekatan diagnosis dan terapi. Prinsip penanganan intoksikasi meliputi stabilisasi awal pasien, dekontaminasi, eliminasi racun dari tubuh, penggunaan antidotum spesifik bila tersedia, serta terapi suportif dan simptomatik. Deteksi laboratorium, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, juga sangat membantu dalam menentukan jenis racun dan tingkat keparahan paparan.