02 Jun 2026 In Berita

Penulis : Dr. Apt. Dwisari Dillasamola, M.Farm., Apt | Muhammad Riyadz Aqsha, S.Farm 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 270 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan flora luar biasa, termasuk beragam tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Keanekaragaman hayati ini didukung oleh kondisi geografis dan iklim tropis yang memungkinkan berbagai jenis tanaman tumbuh subur sepanjang tahun. Hutan tropis Indonesia menjadi habitat bagi ribuan spesies tumbuhan, banyak di antaranya belum sepenuhnya diteliti dan memiliki potensi besar dalam pengembangan obat herbal maupun modern. Kekayaan ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat sumber daya genetik penting di dunia.
Sejak dahulu, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan tanaman di sekitarnya untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit. Pemanfaatan tersebut dilakukan secara sederhana, seperti melalui rebusan, tumbukan, atau ramuan tradisional yang dikenal luas sebagai jamu. Praktik ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman empiris, tetapi juga pada pengamatan terhadap efek tanaman terhadap tubuh. Seiring waktu, penggunaan berkembang menjadi bagian dari sistem pengobatan tradisional yang terus digunakan hingga saat ini, baik di pedesaan maupun perkotaan.

02 Jun 2026 In Berita

Penulis : Dr. Elly Delfia, S.S., M.Hum 

ISBN: 

Bahasa: Indonesia

Cetakan: Pertama, 2026

Jumlah Halaman: 277 halaman

Ukuran Buku: 15,5 cm x 23 cm

 

Sinopsis :

Bahasa tidak hanya digunakan sebagai tuturan manusia, tetapi juga sebagai representasi dari realitas sosial. Saussure (1988) menyatakan bahwa bahasa adalah institusi sosial yang menggunakan sistem tanda untuk mengungkapkan gagasan secara alami dan bahasa merupakan tanda terpenting di antara sistem tanda lainnya. Bahasa adalah sistem tanda yang berfungsi sebagai sumber makna atau sistem realisasi makna melalui bentuk-bentuk linguistik yang terhubung dengan sistem sosial budaya.
Halliday menggambarkan relasi bahasa dengan realitas sosial dalam konsep sistem semiotika sosial yang dijabarkan dalam tradisi linguistik fungsional sistemik (Halliday, 1978). Linguistik fungsional sistemik (selanjutnya disingkat LFS) membicarakan bahasa sebagai simbol semiotika sosial yang secara hierarkis terdiri atas grafologi/fonologi, gramatika, semantik, register, genre, dan ideologi (Halliday dan Hasan, 1989). Halliday juga menyatakan bahwa pada tingkat struktur yang lebih abstrak, bahasa dibicarakan secara ekslusif (lebih atau kurangnya) karena teori fungsional bahasa, bahkan tata bahasa dapat dilihat sebagai struktur atau bentuk sosial (Halliday, 1978). Bahasa tidak hanya dibicarakan pada sebatas struktur internal atau struktur teks, tetapi juga struktur eksternal. Stuktur eksternal bahasa dalam LFS disebut dengan konteks (Halliday dan Hasan, 1985; 1989; 1991; 1992).
Pemikiran Halliday tentang konteks terinspirasi dari antropolog, Bronislaw